Beredar Isu, Dana BOS Sekolah Madrasah di Kabupaten Serdang Bedagai Jadi Ajang Pungli?

SERDANG BEDAGAI, teritorial24.com – Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk sekolah madrasah di Kabupaten Serdang Bedagai diduga menjadi ajang pungutan liar (Pungli) oknum tertentu.

Dikutip dari laman bos.kemenag.go.id untuk siswa sekolah Raudhatul Athfal memperoleh dana BOS sebesar Rp600 ribu/orang, Madrasah Ibtidaiyah sebesar Rp900 ribu/orang, Madrasah Tsanawiyah sebesar Rp1,1 juta/orang, dan Madrasah Aliyah sebesar Rp1,5 juta/orang.

Bacaan Lainnya

Informasi yang dihimpun untuk Kabupaten Serdang Bedagai jumlah ada 27 Madrasah Aliyah Negeri dan Swasta.

Untuk sekolah Madrasah Tsanawiyah Swasta maupun Negeri berjumlah 66. Kemudian sekolah Madrasah Ibtidaiyah berjumlah 41.

Informasi yang dihimpun wartawan untuk tingkat MI jumlah siswa mencapai 20 ribuan orang, dan MTs diatas 20 ribuan siswa, serta untuk MA sekitar 5 ribuan siswa.

Besarnya anggaran dana BOS tersebut, tentunya telah melalui proses yang ketat dalam penggunaannya. Pastinya sesuai juknis penggunaan dana BOS yang dikeluarkan oleh Kementerian Agama.

Sehingga celah untuk “Bermain main” dengan dana BOS sulit dilakukan.

Akan tetapi isu tak sedap soal pungli atau kutipan ilegal dari dana BOS di jajaran Kemenag Kabupaten Serdang Bedagai mencuat setelah sejumlah kepala sekolah madrasah dan merupakan narasumber wartawan bercerita soal kiat dan suksesnya kutipan tersebut.

Secara runut sumber mengatakan bahwa modus pungli dilakukan pada saat laporan penggunaan dana BOS.

Pada saat itu, ujarnya, bendahara atau pihak madrasah membawa hasil pungli dengan jumlah yang bervariasi.

” Tergantung jumlah siswanya, makin banyak siswa tentunya makin banyak setorannya,” ungkap sumber.

Sumber menyebutkan, untuk tingkat MI yang diperoleh Rp900 ribu dipatok sebesar Rp3 ribu per orangnya.Sedangkan untuk tingkat MTs sebesar Rp5 ribu per orang. Kemudian, untuk tingkat MA dipungli sebesar Rp6 ribu per orang.

Maka, kata sumber tersebut bisa dibayangkan berapa besaran dana yang diperoleh oknum di Kemenag dalam setiap pencairan dana BOS.

Menurut sumber, pungli tidak hanya berhenti pada waktu melaporkan penggunaan dana BOS. Akan tetapi dilanjutkan dengan acara Monitoring dan Evaluasi (Monev) yang dihadiri seluruh kepala sekolah dan bendahara madrasah dengan jumlah kutipan yang sama.

Sumber menyebutkan bahwa pungli ini sulit untuk dibuktikan secara tertulis, lantaran pihak sekolah tidak mau repot-repot, gegara sedikit bisa bermasalah pencairan dana BOS nantinya.

” Ini ritual khusus dan dilaksanakan sambil makan makan,” katanya terkekeh.

Terkait isu tersebut, Kepala Kantor Kementerian Agama (Kakan Kemenag) Kabupaten Serdang Bedagai, H Zulkifli Sitorus S.Ag MA, ketika dikonfirmasi wartawan melalui telepon seluler membantahnya, Kamis siang 22 September 2022.

Dia mengatakan tidak ada kutipan dan itu tidak benar. Bahkan Kemenag Sergai menolak gratifikasi dana BOS.

“Kita tidak ada lagi pemotongan-pemotongan dana BOS. Apalagi pencairan dana BOS itu tidak lagi di Kemenag Kabupaten/Kota,” ujarnya kepada wartawan.

Bahkan sebagai Kepala Kantor Kemenag Sergai, sedang mengeluarkan surat imbauan agar tidak ada lagi gratifikasi atau pemotongan dalam pelayanan dan pencairan.

“Seluruh madrasah akan kita keluarkan surat imbauan guna pencegahan gratifikasi,”pungkasnya.(Anwar)

Pos terkait