Oknum Pengacara Diduga Bodong Dilapor ke Poldasu, Ini Kata Ketua GPA Deliserdang…

  • Whatsapp
Pengacara yang juga Ketua GPA Deliserdang, Abdul Ghafur Sina. (IST/As)
example banner

DELISERDANG, teritorial24.com-Kasus dugaan oknum pengacara bodong dan dilaporkan ke Polda Sumut, BS, terus menuai reaksi di masyarakat, khususnya kaum advokat alias ajuster atau pembela.

Salah satunya, Abdul Ghafur Sina. Pengacara yang juga Ketua Gerakan Pemuda Alwashliyah (GPA) Deliserdang ini secara tegas meminta pihak-pihak lain agar tidak menggiring kasus itu ke ranah Suku, Agama, Ras dan Antargolongan atau SARA.

Diapun menyatakan dukungannya agar kasus yang dilaporkan Forum Silaturahmi Lintas Advokat (Forsila), segera diproses penyidik Polda Sumut. Hal itu, katanya, untuk menjaga marwah dan martabat profesi advokat.

“Kita mendukung langkah yang dilakukan Forsila melaporkan BS ke Poldasu. Hal ini demi menjaga marwah dan martabat profesi advokat. ini merupakan langkah bijak dan elegan. Kepada masyarakat diharapkan, jangan terpancing isu SARA yang belakangan ini selalu digulirkan,” katanya kepada wartawan, Rabu (3/3).

Apa yang dilakukan Forsila, sambungnya, murni dalam rangka penegakan hukum dan harus didukung semua pihak. “Ini adalah murni dalam rangka penegakan hukum, tidak ada urusan sedikitpun dengan isu SARA. bila ada pihak yang mencoba mengarah-arahkan pada isu SARA, sebaikan berpikir jernih, karena itu sama saja melakukan provokatif dan bisa menimbulkan kegaduhan di tengah masyarakat,” tukasnya.

Bila isu SARA itu tetap saja digulirkan di tengah proses hukum yang sedang berjalan, tegasnya, akan membuat preseden buruk “Dan itu sangat kita sayangkan. Mari berpikir bijak. Kalau mau beradu, ya beradu dalam konsep hukum saja. Nggak usah ngawur,” tandasnya.

Sebelumnya, dukungan serupa juga digaungkan Korps Advokat Alumni UMSU (KAUM) atas laporan polisi No. STTLP/444/III/2001/Sumut/SPKT/III terhadap BS, pengacara diduga gadungan, Senin (1/3), di Polda Sumut.

“Siapapun yang melakukan perbuatan penipuan terhadap suatu profesi, jelas merupakan perbuatan tercela, apalagi terhadap profesi advokat secara tegas diakui UU sebagai profesi yang officium nobile,” kata Kepala Divisi Infokom KAUM, Eka Putra Zakran kepada wartawan.

Perlu diketahui sebelumnya, BS, oknum yang diduga pengacara gadungan, dalam sebuah video yang beredar beberapa waktu lalu, terlihat hanya garuk-garuk kepala saat sejumlah orang menciduknya dari depan rumah seorang warga. Belum diketahui persis tempat peristiwa itu terjadi, tapi dari logat dan bahasanya diyakini di sekitaran Kota Medan.

Dalam video, warga menceritakan mereka sempat menunjuk BS, menjadi kuasa hukum di perusahaan, dengan jabatan direktur hukum. Karena BS mengaku sebagai pengacara.

Rupanya BS memakai mobil Honda Jazz atas nama Citra sudah tiga tahun, tapi tidak dipulang-pulangkan. Sudah dihubungi beberapa kali, tapi hape BS tidak aktif-aktif. Terlihat BS dipaksa turun dari mobil Honda Jazz tersebut. “Hape abang nggak aktif, dihubungi nggak bisa, jadi saya minta bantu abang ini,” kata pemilik mobil Honda Jazz.

“Tapi barang-barang aku?” kata BS pelan sambil garuk-garuk kepala.

Seseorang langsung menyambut pertanyaan BS. “STNK-nya mana eii? Mana kartu Peradi kau? Kau mau liat kartu Peradi? Ini nih. Nih, kayak gini Kartu Peradi, tengok dulu eiii!” katanya.

BS pun tertunduk lesu. Di dalam mobil, BS diinterogasi. “Lae bawa-bawa Peradi. Mana kartu Peradi Lae?” tanya seseorang.

Orang tersebut kembali mengatakan, BS terlalu berani buat nama kantor pengacara. “Kapan kau jadi pengacara? Terlalu berani kau!” katanya lagi.

BS sendiri terlihat hanya menutup-nutupi wajahnya dengan lembaran kertas. (As)

example banner

example banner