Terungkap! Pensiunan PT PN 4 Itu Tewas Dihantam Benda Tumpul, Lalu Dibakar Masih Hidup di Gubuknya

  • Whatsapp
Korban saat ditemukan di lokasi. DOK/As

DELISERDANG, teritorial24.com-Penyidik Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polresta Deliserdang, memastikan jika Ngasil Tarigan, petani 68 tahun, yang tewas dalam kondisi terbakar di gubuknya, Dusun 1, Desa Simempar, Kecamatan Gunung Meriah, Kabupaten Deliserdang, Kamis lalu (10/9), dihantam benda tumpul dan dibakar hidup-hidup.

Setelah korban tewas, pelaku membakar korban dan gubuknya. Penegasan ini disampaikan Kasat Reskrim Polresta Deliserdang, Kompol Muhammad Firdaus ketika dikonfirmasi wartawan, Sabtu (12/9).

Bacaan Lainnya

example banner

example banner

“Korban, Ngasil Tarigan lebih dulu dipukul benda tumpul. Lalu dibakar dalam kondisi hidup-hidup hingga tewas,” ujarnya.

Terkait ceceran darah di lokasi kejadian, sambung Firdaus, berasal dari kepala.

“Darah itu dari kepala korban yang terkena pukulan benda tumpul, sehingga mengeluarkan darah dari hidungnya. Kemudian, korban yang masih hidup dibakar hingga meninggal di lokasi kejadian,” jelasnya.

Dalam kasus itu, penyidik Satreskrim Polresta Deliserdang masih melakukan penyelidikan dengan memeriksa sejumlah saksi.

“Sampai saat ini, sudah 10 orang yang diperiksa. Tapi, belum ada mengarah pada tersangka,” sebutnya.

Ditanya berapa pelaku yang menghabisi korban, Firdaus juga belum bisa memastikan.

“Berapa orang yang melakukan pembunuhan, masih diselidiki,” jawabnya.

Sehari sebelumnya, Jumat sore (11/9), setelah diotopsi di Rumah Sakit (RS) Bhayangkara Medan, jasad Ngasil Tarigan tiba di rumah duka, Dusun III, Desa Jambur Pulau, Kecamatan Perbaungan, Serdangbedagai (Sergai).
Isak tangis pun mewarnai kedatangan jasad Ngasil Tarigan, yang memilih menjadi petani setelah pensiun dari PTPN IV Unit Kebun Adolina, tahun 2006 lalu. Dia meninggalkan seorang istri dan empat orang anak, dua perempuan dan dua laki-laki.

Edi Suranta, anak kedua Ngasil Tarigan, menerangkan ayahnya itu sudah sejak tujuh bulan lalu pergi ke ladangnya.

“Ladang warisan keluarga. Bapak pergi berladang sekitar bulan Februari 2020 lalu. Selama berladang, bapak pulang ke rumah paling sebulan sekali. Kadang dua bulan sekali. Itupun kalau bahan makanannya habis,” katanya.

Dia mengaku, terakhir jumpa dengan ayahnya itu pada 17 Agustus 2020 lalu.

“Terakhir jumpa 17 Agustus 2020 itulah, waktu ada acara keluarga. Terakhir komunikasi sekitar seminggu lalu,” tuturnya.

Sepengetahuan Edi Suranta, ayahnya itu tak pernah ada masalah dengan orang lain.

“Selama ini bapak gak ada cerita kalau ada masalah, karena bapak orangnya gak mau cari masalah. Bapak orangnya pendiam,” sebutnya.

Dia berharap kepada Polsek Gunung Meriah, Polresta Deliserdang, bahkan Polda Sumut, untuk secepatnya menangkap pelaku pembunuhan ayahnya.

“Kita meminta Polsek Gunung Meriah, Polresta Deliserdang dan Polda Sumut, untuk bisa segera mengungkap kasus pembunuhan bapak saya dan menangkap siapa pelakunya,” harap Edi Suranta.

Diketahui, Ngasil Tarigan, tewas dengan cara mengenaskan. Dia diduga dibunuh, setelah itu dibakar di dalam gubuk di ladangnya, Dusun 1, Desa Simempar, Kecamatan Gunung Meriah, Deliserdang, Kamis dini hari (10/9), dan baru diketahui jam 08.30 WIB.

Awal penemuan korban, adalah Sastra Tarigan, warga sekitar, hendak mengantar pupuk ke ladangnya dan melintasi gubuk korban. Saat melintas itu, Sastra merasa aneh karena melihat sebagian gubuk korban sudah terbakar. Lalu, dia kembali ke rumah. Dalam perjalanan pulang ke rumah, dia bertemu dengan Lidya Apulina br Sembiring, warga sekitar, bersama ibunya di dekat tempat kejadian perkara (TKP).

Lalu, Sastra mendengar Lidya berteriak, menyebutkan korban yang merupakan pamannya, sudah tewas dalam kondisi terbakar. Mengetahui itu, Sastra langsung melaporkannya kepada keluarga korban, dan diteruskan ke Kepala Desa (Kades) Simempar. Kabar tersebut juga disampaikan ke personel Polsek Gunung Meriah. Tak lama, personel Polsek Gunung Meriah dan Tim Inafis Polresta Deliserdang tiba di lokasi melakukan identifikasi, penyelidikan dan olah TKP. (As) example banner

Pos terkait