Terkait Pedagang Daging, Satpol PP Kota Tebingtinggi Lakukan Mediasi

  • Whatsapp

TEBING TINGGI, teritoria24.com-

Persoalan pedagang daging di Pasar Gambir yang bergabung dalam Asosiasi Pedagang Daging se Kota Tebingtinggi dengan pedagang yang belum terdaftar berlanjut di Kantor Satpol PP.

Bacaan Lainnya

Pasalnya, pedagang yang belum terdaftar dalam asosiasi tersebut berjualan di pasar bukan di dalam gedung Pasar Gambir, akibatnya pedagang yang mayoritas sudah terdaftar dalam asosiasi pedagang daging yang berdagang di dalam gedung Pasar Gambir resah karena omset mereka berkurang drastis terlebih harga yang di jual di luar gedung Pasar Gambir lebih murah.

Satpol PP mengundang kedua belah pihak untuk mengadakan rapat Mediasi agar permasalahan segera tuntas di aula Satpol PP Jalan Tuanku Imam Bonjol, Rabu (18/1/2023) pagi

Rapat dihadiri Kadis Ketapang Marimbun Marpaung SP, M.Si dan Kabid Pedagangan Rosmawati SE,M.Si, dan kedua belah pihak yang bertikai.

Rapat di pimpin Kepala Satpol PP Kota Tebingtinggi Yustin Bernat Hutapea. Yustin mengatakan, Pemerintah Tebing tinggi sebenarnya tidak diam dalam persoalan ini dan kami tidak pernah back up siapapun terkait permasalahan ini.

“Kita orang ketimuran tentu tertanam sikap kebersamaan dan persaudaraan. Mari kita saling menjaga terlebih untuk damainya kota Tebingtinggi,” ajak Yustin

Lanjutnya, untuk pedagang yang belum masuk kedalam asosiasi, saya minta bergabunglah di dalamnya.

Sementara Kadis Ketapang Marimbun mengatakan bahwa sebenarnya benang merahnya sederhana, kita ikuti Perda dan Peraturan Walikota.

“Sama samalah kita ikuti peraturan, untuk saudara Adlan dan Ariadi yang berjualan di P0asar cobalah masuk kedalam ikuti peraturan pemerintah janganlah kita melanggarnya.Saya menyarankan ikutlah dalam asosiasi tidak ada masalah kalau kita dapat duduk bersama satu bahasa,” imbaunya.

Marimbun menambahkan, terkait daging yang sehat, kami akan awasi terus hewan yang tidak di potong di rumah hewan, kemudian

jangan ada perbedaan harga di Pasar Gambir dan Inpres.

“Marilah kita bersama sama membangun Tebingtinggi, saya sayang sama semuanya para pedagang, sebab pedagang juga pahlawan dalam membantu PAD Kota Tebingtinggi,” ucapnya.

Sementara Ketua Asosiasi Pedagang Daging se-kota Tebing tinggi Hj Rustiati Husni mengatakan, terbentuknya Asosiasi pedang daging ini, karena sering terjadi ketidak cocokan antara pedagang daging, maka kami dahulu sepakat untuk membuat asosiasi pedagang daging di Tebing tinggi ini.

“Tujuannya adalah untuk memperkuat silaturahmi karena pedagang daging selalu bentrok terutama mengenai harga. Dengan begitu adanya pedagang baru dapat koordinasi kepada kami bahwa di Tebingtinggi sudah ada asosiasi jadi hal hal yang bisa mengakibatkan keributan dapat di selesaikan,” ujarnya.

Ketua Asosiasi Pedagang Daging Kota Tebingtinggi berharap kepada dinas terkait melakukan penertiban dan membina para pedagang, jangan kami di biarkan begitu saja, pungkasnya.

Perdebatan yang cukup panjang berakhir dengan senyuman kebersamaan satu profesi dan bersepakat membuat surat pernyataan oleh kedua belah pihak dengan bergabungnya Adlan dan Ariandi dalam Asosiasi Pedagang Daging se Kota Tebingtinggi.

Adapun hasil rapat dalam surat pernyataan antar dua pihak adalah yang pertama pedagang daging Ariandi bersedia masuk dalam Asosiasi pedang lembu dan kerbau kota Tebingtinggi.

Kedua, tidak ada menjual daging ilegal/sakit dan ini di buktikan dengan melakukan pemotongan hewan di Rumah Potong Hewan Kota Tebingtinggi dan diharapkan seluruh pedagang menyembelih hewan di Rumah Potong Hewan.

Ketiga, tidak boleh berjualan di luar lokasi Pajak Daging Lembu di Pasar Inpres, dan sambil menunggu pendataan dari Dinas Perdagangan maka stand atas nama Amir Saragih yang selama ini tidak di fungsikan untuk sementara di gunakan Ariandi.

Dan apabila keluarga Amir Saragih ingin melanjutkan maka saudara Ariandi bersedia di relokasi ke stand pasar yang tersedia yang di hunjuk Dinas Perdagangan.(Sarifudin Sinaga)

Pos terkait