TERITORIAL24.COM, SERDANG BEDAGAI – Kisah memilukan datang dari Dusun Satu Penjemuran, Desa Silau Rakyat, Kecamatan Sei Rampah, Kabupaten Serdang Bedagai.
Satu keluarga miskin harus rela sehari penuh tidak makan nasi karena tidak punya uang untuk membeli beras.
Keluarga itu adalah Misran (53), istrinya Sri Waningsih (33), dan lima anak mereka. Sejak Misran lumpuh tiga bulan lalu, ia tak lagi bisa bekerja sebagai buruh tani.
Praktis, kebutuhan hidup sehari-hari hanya bergantung pada belas kasih tetangga.
“Saat itu, kami sekeluarga terpaksa makan ubi saja supaya perut nggak kosong. Kalau ada duit, paling beli ikan asin dibakar seadanya. Kalau nggak, ya cari daun kangkung di sawah orang buat direbus,” kata Sri dengan mata berkaca-kaca, Jumat (19/9/2025).
Yang lebih menyedihkan, kelima anak mereka terpaksa putus sekolah karena ketiadaan biaya. Anak sulung, Naila (13), kini sehari-hari hanya menjaga adik-adiknya di rumah.
Bantuan pemerintah? Menurut Sri, sejauh ini nihil. Baik pusat, provinsi, kabupaten, maupun desa, tak ada yang menyentuh keluarga mereka. “Saya bermohon agar pemerintah memberi bantuan kepada kami sekeluarga. Tolonglah Pak Presiden Prabowo, bantu kami supaya bisa berobat dan anak-anak bisa makan setiap hari,” pinta Misran sambil bertopang tongkat.
Untungnya, perhatian datang dari Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sergai, Zuhari. Ia memberikan bantuan berupa beras, minyak goreng, gula, dan teh. Bantuan itu disambut haru. “Semoga Allah membalas kebaikan bapak,” ucap Misran.
Di tengah gegap gempita program pangan murah, bansos digital, dan jargon ketahanan pangan nasional, keluarga Misran membuktikan bahwa nasi di meja makan ternyata masih bisa jadi barang mewah.(Tim)












