Deli Serdang - Serdang Bedagai

Biaya Perobatan Capai 30 Juta, Korban Pembacokan Sedih Tak Dapat Program PAS PULA

489
×

Biaya Perobatan Capai 30 Juta, Korban Pembacokan Sedih Tak Dapat Program PAS PULA

Sebarkan artikel ini

TERITORIAL24.COM, DELISERDANG – Kesedihan terus dialami keluarga korban pembacokan geng motor, Farhas (20) warga jalan Pembangunan 1 gang Arum Desa Sekip Kecamatan Lubuk Pakam, yang tidak bisa mengurus program PAS PULA yang diluncurkan Bupati Deli Serdang Asri Ludin Tambunan.

Seperti diketahui keluarga korban adalah warga kurang mampu saat ini masih bertempat tinggal mengontrak rumah di jalan gang Pembangunan 1 Lubuk Pakam. Sementara Farhas sendiri, kondisinya sudah lebih dua pekan masih dirawat di RSUD Deli Serdang hingga kini.

Program PAS PULA sendiri merupakan program layanan kesehatan pasien unregister yang digulirkan oleh Pemerintah Kabupaten Deli Serdang untuk menjangkau masyarakat yang tidak memiliki jaminan kesehatan atau yang tidak tercover oleh BPJS.

Program ini memastikan akses pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang kurang mampu, korban kecelakaan, orang dengan gangguan jiwa (ODGJ), dan mereka yang memerlukan perawatan darurat.

Kepala Desa Sekip Kecamatan Lubuk Pakam Rahmat saat dikonfirmasi pada Selasa (06/05/2025) mengakui pihaknya telah membantu pengurusan progam PAS PULA untuk korban pembacokan ini, namun disebutkannya ada kendala di Dinas terkait.

“Kami sudah berusaha membantu korban, sekitar seminggu yang lalu ayahnya korban, pak Bambang datang ke kantor Desa, mau mengurus program PAS PULA untuk membantu agar anaknya di tanggung APBD , kemarin itu Kaur Iskandar dan kadus sempurna Andi menemani ayah korban untuk mengurus program ini ke Dinas sosial dan Kesehatan,” ujar Rahmat.

Lebih lanjut Rahmat mengakui bahwa pak Bambang masih terdata kartu keluarganya di Jalan sempurna dan ia ngontrak rumah di jalan pembangunan.

“Ia ngontrak di gang pembangunan, orang susah mereka, saat kami tanyakan kendalanya dimana mengapa tidak bisa dapat program PAS PULA kata staf saya yang ngurus di Dinas Sosial dan Dinas Kesehatan karena korban pernah pindah ke jawa cari kerja, namun korban balik lagi dan masuk KK orangtuanya, infonya karena belum enam bulan tinggal di disini, itu kendalanya, ya saya kasian juga lihat mereka,” sambung Rahmat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *