Religi

Ritus di Gang Amman, Ketika Tirulkalyanam Menyatukan Deli Serdang

446
×

Ritus di Gang Amman, Ketika Tirulkalyanam Menyatukan Deli Serdang

Sebarkan artikel ini

TERITORIAL24.COM, DELISERDANG – Di sebuah gang kecil bernama Gang Amman, di tengah hiruk-pikuk kawasan Helvetia, cahaya lampu warna-warni menari di atas langit malam.

Kamis itu, 8 Mei 2025, suara mantra dan kidung pujian mengalun dari pelataran Shri Minachi Amman Kuil. Wangi dupa bercampur harum bunga menyambut setiap tamu yang hadir.

Umat Hindu dari berbagai penjuru Sumatera Utara berkumpul dalam satu tujuan: merayakan Meenaksi Tirulkalyanam, sebuah upacara sakral tentang cinta dan pengabdian Dewi Meenaksi kepada Dewa Sundareshwarar.

Namun yang terasa kuat malam itu bukan sekadar spiritualitas, melainkan simbol kuat keberagaman yang hidup dan tumbuh di Kabupaten Deli Serdang. Di atas panggung sederhana, Wakil Bupati Deli Serdang Lom Lom Suwondo berdiri, menyampaikan pesan tentang pentingnya toleransi dan kerukunan antarumat beragama.

“Deli Serdang adalah rumah besar bagi seluruh pemeluk agama,” ujarnya mantap. “Meenaksi Tirulkalyanam adalah wujud nyata kekuatan spiritual dan semangat kebersamaan yang menjadi pondasi kita membangun daerah yang religius dan berkelanjutan.”

Pernyataan itu bukan retorika kosong. Data statistik memperkuat klaim sang Wabup: dari sekitar dua juta jiwa penduduk Deli Serdang, 78 persen memeluk Islam, 16,81 persen Kristen Protestan, 2,82 persen Katolik, 2,05 persen Buddha, 0,15 persen Hindu, dan 0,01 persen Konghucu. Minoritas, namun tak terpinggirkan.

Acara Tirulkalyanam ini adalah bukti hidup. Di hadapan altar kuil, para pemimpin lintas instansi hadir menyaksikan: dari Pembimas Hindu Kemenag Sumut, Elirosa Tarigan, hingga Ketua PHDI Deli Serdang, Yanras.

Turut hadir pula tokoh-tokoh daerah, termasuk Kepala Kesbangpol Zainal Abidin Hutagalung dan Kadisbudporapar Ismail.

Bagi Badareswan, pengawas Yayasan Shri Minachi Amman, dukungan itu tak ternilai. “Kami bersyukur, ini bukan hanya perayaan umat Hindu, tapi simbol harmoni seluruh masyarakat Deli Serdang,” katanya.

Ritus suci itu ditutup dengan prosesi Tirulkalyanam—pernikahan ilahi Meenaksi dan Sundareshwarar—yang menggambarkan penyatuan kekuatan feminin dan maskulin dalam semesta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *