Peristiwa

‎Mengantre Demi Harapan, Gugur di Tengah Tembakan ‎

550
×

‎Mengantre Demi Harapan, Gugur di Tengah Tembakan ‎

Sebarkan artikel ini
‎Video pertama kali dipublikasikan oleh akun media sosial aktivis lokal(foto: Twitter@AJEnglish)

‎TERITORIAL24.COM,GAZA-Sebuah video amatir yang beredar luas pada Selasa (5/8) menunjukkan detik-detik mencekam saat tembakan senjata api menghantam tanah hanya beberapa meter dari kerumunan warga Palestina yang tengah mengantre bantuan di titik distribusi Gaza Humanitarian Foundation (GHF).

‎Video tersebut pertama kali dipublikasikan oleh akun media sosial aktivis lokal dan telah diverifikasi oleh media internasional, termasuk Al Jazeera dan Reuters.

‎Sejak GHF mulai beroperasi pada Mei 2025, lebih dari 1.000 warga Palestina dilaporkan tewas saat mencoba mengakses bantuan kemanusiaan.

‎Data ini merujuk pada laporan gabungan dari Human Rights Watch (HRW) dan Norwegian Refugee Council (NRC), yang menyatakan bahwa sebagian besar korban meninggal akibat kekacauan saat antrean bantuan, penembakan, dan lemahnya pengamanan di lokasi distribusi.

‎“Kami menyaksikan kekacauan yang berulang setiap kali bantuan dibagikan. Banyak warga yang terdesak, terluka, bahkan tertembak hanya karena ingin mendapatkan makanan,” ungkap seorang relawan medis lokal kepada Associated Press, Selasa sore.

‎GHF belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait insiden terbaru ini.

‎Namun, dalam laporan terdahulu kepada BBC Arabic, juru bicara GHF membantah tudingan bahwa lembaganya gagal menjamin keselamatan warga sipil.

‎Menyebut bahwa tanggung jawab keamanan seharusnya diambil alih oleh otoritas lokal dan internasional.

‎Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) dalam siaran pers yang dirilis pada 4 Agustus 2025 mengutuk keras jatuhnya korban sipil dalam proses distribusi bantuan.

‎OCHA menekankan bahwa akses terhadap pangan dan air bersih merupakan hak dasar yang harus dijamin dalam situasi konflik.

‎“Tidak ada satu pun warga sipil yang seharusnya kehilangan nyawa hanya karena mengantre makanan,” tegas juru bicara OCHA, Jens Laerke, dalam konferensi pers di Jenewa.

‎Selain itu, Amnesty International mendesak dilakukannya investigasi independen terhadap insiden ini.

‎Mereka juga menyoroti kurangnya jalur distribusi alternatif yang aman dan terkoordinasi, serta menilai proses distribusi bantuan oleh GHF “rentan, tidak transparan, dan rawan kekerasan.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *