Sumatera Utara

Kunjungi Sentra Songket Silau Laut, Kahiyang Ayu Borong Motif Khas Asahan

308
×

Kunjungi Sentra Songket Silau Laut, Kahiyang Ayu Borong Motif Khas Asahan

Sebarkan artikel ini

TERITORIAL24.COM, ASAHAN — Udara pagi di Desa Silo Bonto, Kecamatan Silau Laut, Kabupaten Asahan, terasa berbeda pada Senin, 4 Agustus 2025.

Di antara suara alat tenun tradisional yang berpadu dengan obrolan pengrajin, hadir sosok Kahiyang Ayu, Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Sumatera Utara.

Ia datang menyambangi sentra pengrajin songket yang selama ini menjaga denyut tradisi di sudut timur Sumatera Utara.

Tak sekadar berkunjung, Kahiyang memborong sejumlah kain songket khas Asahan, mulai dari motif Pucuk Rebung, Bunga Tulip, Kapal dan Ikan, hingga Motif Asahan Klasik.

Setiap motif, menurutnya, merekam jejak sejarah dan kearifan lokal masyarakat pesisir yang diwariskan dari generasi ke generasi.

“Motif songket bukan hanya hiasan. Ia adalah narasi budaya yang dijalin benang demi benang oleh tangan-tangan terampil. Kunjungan ini bagian dari upaya Dekranasda untuk mengangkat kembali wajah warisan lokal agar semakin dikenal luas,” ujar Kahiyang.

Dalam kesempatan itu, istri Gubernur Sumatera Utara ini juga berdialog dengan para pengrajin, mendengar langsung keluh kesah yang mereka hadapi.

Salah satu tantangan utama yang diungkapkan adalah soal bahan baku—benang togak dan benang pakan—yang masih harus didatangkan dari luar daerah, seperti Sumatera Barat.

Zul Asmal, salah satu pengrajin yang telah lebih dari satu dekade menekuni tenun songket, menyambut antusias kehadiran rombongan Dekranasda.

Ia bercerita, saat ini terdapat sekitar 15 hingga 20 pengrajin aktif di desa tersebut, dengan hasil tenunan dipasarkan ke berbagai daerah seperti Medan, Bukittinggi, Jakarta, hingga ke lingkungan Pemkab Asahan.

“Harga kain songket bervariasi, tergantung tingkat kerumitan motif. Mulai dari Rp350 ribu hingga Rp650 ribu,” ujar Zul, sambil menunjukkan beberapa kain yang baru selesai ditenun.

Bagi Zul dan istrinya, Emi, dukungan semacam ini bukan sekadar simbolis. Mereka berharap perhatian dari pemerintah dapat menjembatani produk lokal masuk ke pasar yang lebih luas, tanpa kehilangan akar tradisinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *