TERITORIAL24.COM, SERDANG BEDAGAI — Sudah hampir sepekan masyarakat Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara, “dihadiahi” dua cobaan sekaligus. Banjir yang tak kunjung surut dan BBM yang tiba-tiba berperilaku seperti barang koleksi langka. Rumah-rumah warga masih tergenang setinggi 40 cm hingga satu meter, membuat banyak penghuni terpaksa mengungsi.
Belum selesai urusan air yang masuk ke rumah, kini masyarakat harus berhadapan dengan kelangkaan Solar dan Pertalite di seluruh SPBU Sergai.
Kondisi yang oleh sebagian warga digambarkan sebagai “musibah di atas musibah”—dan bukan dalam pengertian puitis.
Tokoh Agama Sergai, Drs. Ustad Ridwan Yahya, Rabu (3/12/2025), ikut angkat suara.
Menurutnya, kelangkaan BBM bisa melumpuhkan roda perekonomian daerah.
“Banyak masyarakat nantinya tidak bisa bekerja, baik di kantor pemerintah maupun swasta. Buruh pun bisa tak sampai ke tempat kerja karena kendaraan mereka tak bisa jalan,” ujarnya.
Ia menegaskan, masyarakat yang sudah diuji banjir tidak seharusnya ditambah beban dengan krisis BBM. “Diharapkan pemerintah segera mengatasi ini,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Front Komunitas Indonesia Satu (FKI-1) Sergai, M. Nur, bahkan menyebut persoalan ini tergolong serius dan wajib ditangani cepat.
Menurutnya, keadaan warga di lapangan sudah sangat terpuruk karena harta benda ikut terendam banjir. “Jadi jangan ditambah derita masyarakat,” katanya.
Ia mengingatkan bahwa kendaraan-kendaraan mulai berhenti beroperasi. “Tidak dibutuhkan banyak retorika dan seremonial lagi,” tegasnya.
M. Nur memprediksi, jika kelangkaan terus berlarut, akan banyak warga yang tak bisa masuk kerja.
“Pemerintah jangan menunggu masyarakat marah dan demonstrasi besar-besaran dulu baru bergerak,” ujarnya.
BBM Menghilang di Tingkat Pengecer
Kelangkaan BBM juga dirasakan Yuyun, warga Desa Silau Rakyat, Kecamatan Sei Rampah.
Ia menuturkan bahwa Pertalite bukan hanya hilang dari SPBU, tapi juga lenyap dari tingkat pengecer. “Biasanya walaupun mahal, sampai Rp 30 ribu per liter pun tetap dibeli. Tapi sekarang barangnya tidak ada,” keluhnya.












