Sumatera Utara

Gubernur Sumatera Utara Minta Relaksasi UKT bagi Mahasiswa Korban Bencana

285
×

Gubernur Sumatera Utara Minta Relaksasi UKT bagi Mahasiswa Korban Bencana

Sebarkan artikel ini

TERITORIAL24.COM, MEDAN — Gubernur Sumatera Utara Muhammad Bobby Afif Nasution meminta pemerintah pusat memberikan kebijakan relaksasi biaya pendidikan bagi mahasiswa yang terdampak bencana alam di Sumatera Utara.

Permintaan itu disampaikan Bobby kepada Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Fauzan saat menghadiri pelantikan Rektor Universitas Sumatera Utara periode 2026–2031 di Auditorium USU, Medan, Rabu, 28 Januari 2026.

Dalam pelantikan tersebut, Muryanto Amin kembali dilantik sebagai Rektor USU untuk periode kedua.

Pelantikan dilakukan oleh Ketua Majelis Wali Amanat USU Agus Andrianto dan disaksikan sejumlah pejabat pusat dan daerah.

Bobby menyampaikan bahwa bencana alam yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Utara tidak hanya menimbulkan korban jiwa dan kerusakan harta benda, tetapi juga berdampak pada keberlangsungan pendidikan mahasiswa. Karena itu, ia meminta adanya keringanan biaya kuliah bagi mahasiswa yang terdampak.

“Kami memohon ada relaksasi atau keringanan membayar uang kuliah bagi mahasiswa yang tertimpa bencana, agar mereka tetap bisa melanjutkan pendidikan,” kata Bobby di hadapan Wamen PTST.

Menurut Bobby, kebijakan tersebut penting untuk menjaga semangat belajar generasi muda di tengah kondisi ekonomi keluarga yang terganggu pascabencana.

Ia berharap relaksasi biaya pendidikan dapat mencegah mahasiswa putus kuliah.

Dalam kesempatan itu, Bobby juga mengingatkan pentingnya peran perguruan tinggi dalam menyiapkan sumber daya manusia yang siap kerja dan mampu mendukung agenda hilirisasi di Sumatera Utara. Ia menilai lulusan perguruan tinggi harus mampu berinovasi dan menciptakan nilai tambah bagi sektor industri pengolahan.

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Fauzan menekankan perlunya kepemimpinan kampus yang adaptif terhadap perubahan. Menurut dia, universitas harus mampu menjawab persoalan sosial yang berkembang di masyarakat.

“Perguruan tinggi tidak bisa berjalan dengan pola yang sama dari waktu ke waktu. Kampus harus menjadi ekosistem yang memberi solusi atas kegelisahan masyarakat,” ujar Fauzan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *