TERITORIAL24.COM, MEDAN — Menjadi perempuan aktif di organisasi itu nggak cuma soal datang rapat dan tanda tangan daftar hadir.
Butuh juga kemampuan komunikasi yang baik, karakter kuat, dan tentu saja etika pergaulan yang nggak bikin suasana jadi canggung atau salah paham.
Mungkin itu juga yang jadi alasan Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kabupaten Serdang Bedagai menggelar Pelatihan Pengembangan Karakter bagi Organisasi Wanita di Aula Dinas Pendidikan, Sei Rampah, Kamis (16/10/2025).
Acara ini dibuka langsung oleh Ny. Hj. Rosmaida Saragih Darma Wijaya, Ketua TP-PKK Sergai sekaligus Penasehat DWP Sergai, yang tampil elegan seperti biasa—dan tentu dengan semangat membangun perempuan yang tangguh dan beretika.
“Melalui kegiatan ini, para peserta diharapkan bisa memperkuat karakter, meningkatkan kualitas diri, serta menjadi anggota DWP yang cerdas, bijak, dan beretika,” ujar Rosmaida.
Tema yang diusung kali ini, “Etika Pergaulan bagi Organisasi Wanita”, terdengar sederhana tapi penting banget—apalagi di era ketika salah ketik di grup WhatsApp bisa bikin drama kecil yang panjang.
Sebelumnya, Ketua DWP Sergai, Ny. Mafa Suwanto Nasution, menjelaskan bahwa pelatihan ini dirancang untuk meningkatkan kemampuan komunikasi, memperdalam etika, dan membangun citra positif anggota organisasi wanita.
“Melalui kegiatan ini, kami berharap anggota organisasi dapat menjalin relasi profesional dengan berbagai kalangan dan memperkuat citra organisasi yang modern dan beretika,” katanya.
Kegiatannya nggak cuma duduk manis dengar ceramah. Para peserta juga dapat materi soal pembangunan karakter, kepemimpinan perempuan, hingga cara komunikasi efektif yang bisa bikin obrolan rapat lebih lancar dan nggak ngaret.
Turut hadir dalam kegiatan itu antara lain Kepala Dinas Pendidikan Sergai Raden Cici Sistiansyah, Kepala Dinas P2KBP3A dr. Helminur Iskandar Sinaga, Ketua Persit KCK Cabang XXXIII Kodim 0204/DS Ny. Utami Agung Pujiantoro, serta narasumber Tengku Nuranasmita, S.Psi., M.Psi.
Di akhir acara, suasana terlihat cair dan penuh semangat. Tak sedikit peserta yang saling bertukar pengalaman tentang cara menghadapi perbedaan pendapat tanpa kehilangan sopan santun—karena seperti kata Bu Rosmaida, perempuan yang beretika dan berkarakter itu bukan cuma tulang punggung keluarga, tapi juga wajah lembut dari perubahan sosial yang nyata.(Akbar)












