Kota Medan

Menabuh Genderang Inovasi dari Gedung PKK

94
×

Menabuh Genderang Inovasi dari Gedung PKK

Sebarkan artikel ini

TERITORIAL24.COM, MEDAN – Tepuk tangan bergema di Gedung Serbaguna PKK, Jalan Rotan, Medan Petisah, Kamis siang, 12 Februari 2026.

Di atas panggung, Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, menyerahkan hadiah kepada para pemenang Lomba Invensi dan Pengabdian Masyarakat Seri II yang digelar Badan Riset Daerah (Brida) Kota Medan.

Bagi Rico, lomba itu bukan sekadar seremoni tahunan. Ia menyebutnya sebagai pengejawantahan dari tagline yang kerap ia gaungkan: Medan untuk Semua, dan Semua untuk Medan.

“Semua untuk Medan itu artinya kami ingin mendengar dan menyerap ide dari masyarakat. Pembangunan tidak boleh tersentralisasi hanya dari pemerintah,” ujarnya.

Di hadapan para finalis, akademisi, pelajar, dan pejabat organisasi perangkat daerah, Rico menegaskan hubungan pemerintah dan warga harus bersifat timbal balik.

Pemerintah menyerap gagasan, mengolahnya, lalu mengembalikannya dalam bentuk kebijakan dan program yang berdampak nyata.

Dalam skema itu, inovasi tak lagi menjadi monopoli birokrasi, melainkan lahir dari kesadaran kolektif warga kota.

Tahun ini, antusiasme peserta meningkat. Kepala Brida Kota Medan, Benny Iskandar, mencatat 181 peserta—baik perorangan maupun kelompok—mendaftar. Setelah seleksi administrasi dan presentasi, tersaring 10 finalis kategori Pengabdian kepada Masyarakat dan 15 finalis kategori Invensi.

Jumlah finalis invensi bahkan ditambah dari rencana awal 10 orang karena nilai peserta yang berdekatan dan kompetitif.

Menariknya, kategori pengabdian tak hanya diikuti dosen dan mahasiswa. Seorang pelajar SMP juga berhasil menembus jajaran finalis.

“Dari judul-judulnya saja, saya lihat ini calon-calon nasional,” kata Rico. Ia menilai keberagaman latar belakang peserta—lintas kampus, lintas usia—menjadi bukti bahwa Medan menyimpan potensi besar melahirkan inovator kelas nasional bahkan internasional.

Rico juga mengkritik kecenderungan mengagungkan temuan luar daerah atau luar negeri, sementara karya anak bangsa kerap luput perhatian.

“Kadang kita merasa yang hebat itu dari luar. Padahal banyak temuan anak Medan yang luar biasa, tetapi tidak terpublikasi atau tidak terimplementasi,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *