TERITORIAL24.COM,Gaza– Dalam sebuah tulisan penuh refleksi dan perjuangan, Pemimpin Hamas di Gaza, Yahya Sinwar, menyampaikan wasiat terakhirnya.
Ditulis dalam gaya personal dan historis, testamen ini menjadi seruan emosional dan politis.
Bagi generasi Palestina untuk melanjutkan perjuangan yang telah berlangsung selama puluhan tahun.
Yahya Sinwar, lahir pada 29 Oktober 1962 di Kamp Pengungsi Khan Younis, membuka pesannya dengan menyebut dirinya sebagai anak seorang pengungsi yang “mengubah pengasingan menjadi tanah air sementara dan mimpi menjadi pertempuran abadi.”
Ia mengenang masa kecilnya di lorong-lorong kamp pengungsian, tahun-tahun panjang di penjara, dan setiap tetes darah yang tumpah di tanah yang ia cintai.
”Saya menyadari sejak dini bahwa hidup di bawah pendudukan tak lain adalah penjara abadi,” tulisnya.
Seperti dikutip dari akun Twitter @Kahlissee, testamen ini menggambarkan Sinwar bukan hanya sebagai tokoh perlawanan.
Tetapi sebagai simbol keteguhan hati rakyat Palestina dalam menghadapi pendudukan dan penjajahan berkepanjangan.
Sinwar pertama kali dipenjara pada tahun 1988 dan dijatuhi hukuman penjara seumur hidup oleh Israel.
Namun ia menegaskan bahwa ia tidak pernah gentar.
Di balik jeruji, ia menemukan makna kesabaran yang bukan hanya sebagai kebajikan, tetapi sebagai “senjata pahit seperti meminum laut setetes demi setetes.”
Wasiat tentang Perlawanan
Dalam wasiatnya, Sinwar menyerukan kepada rakyat Palestina agar tidak takut terhadap penjara.
Tidak menyerah pada tekanan, dan tidak menanggalkan semangat perlawanan.
Ia menyatakan bahwa musuh lebih takut terhadap keteguhan hati rakyat Palestina dibandingkan senjata mereka.
“Perlawanan bukan hanya senjata yang kita bawa, tapi cinta kita pada Palestina dalam setiap napas.”
Ia juga memperingatkan agar perjuangan tidak dikompromikan dalam meja diplomasi atau permainan politik.
Baginya, darah para syuhada adalah warisan yang tidak boleh dikorbankan untuk kepentingan sesaat.
Dari Penjara ke Kepemimpinan
Yahya Sinwar dibebaskan dari penjara Israel pada tahun 2011 dalam perjanjian pertukaran tahanan “Wafa al-Ahrar” dan kemudian diangkat sebagai pemimpin Hamas di Jalur Gaza pada tahun 2017.












