Ia menggambarkan kepemimpinannya bukan sebagai pergantian kekuasaan semata, tetapi kelanjutan dari perjuangan rakyat Palestina, “dari batu ke senapan.”
Dalam konflik yang dikenal sebagai Operasi Banjir Al-Aqsa, Sinwar mengklaim dirinya bukan sekadar pemimpin gerakan tetapi suara dari setiap warga Palestina yang mendambakan kemerdekaan.
“Operasi itu adalah pertempuran semangat sebelum tubuh, pertempuran kehendak sebelum senjata.”
Warisan dan Harapan
Sinwar menutup pesannya dengan penegasan bahwa tanah Palestina bukan sekadar kisah, melainkan kenyataan yang harus diperjuangkan.
Ia menyerukan agar rakyat Palestina tidak menyerah meski dunia tetap bungkam terhadap penderitaan mereka.
“Jika saya gugur, jangan ikut jatuh. Bawalah panji yang tak pernah jatuh itu, dan jadikan darahku sebagai jembatan bagi generasi yang bangkit dari abu kita dengan lebih kuat.”
Ia menitipkan Palestina kepada generasi berikutnya, menyebut tanah itu sebagai cinta yang dipikul “seperti gunung yang tak pernah tunduk.”
Yahya Sinwar, lahir pada 29 Oktober 1962, adalah pemimpin Hamas di Gaza sejak 2017 dan salah satu tokoh sentral dalam perlawanan terhadap pendudukan Israel.
Testamen ini diyakini ditulis dalam konteks konflik yang terus berlangsung di Jalur Gaza, yang hingga kini menyisakan krisis kemanusiaan yang mendalam.***












