TERITORIAL24.COM – Kepemimpinan dalam Islam tidak hanya dinilai dari ketegasan dalam mengambil keputusan, tetapi juga dari kesederhanaan hidup sang pemimpin.
Sosok Abu Bakar Ash-Shiddiq, khalifah pertama umat Islam, meninggalkan teladan agung tentang bagaimana seorang pemimpin tetap merendahkan diri dan menjaga amanah tanpa memanfaatkan jabatan untuk memperkaya diri.
Kehidupan Sederhana Sang Khalifah
Setelah diangkat menjadi khalifah, Abu Bakar Ash-Shiddiq tetap menjalani hidup sebagaimana sebelum ia memimpin.Beliau menolak untuk mengambil harta umat di luar haknya.
Bahkan, gaji dari baitul mal hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok keluarga, tidak lebih.
Dalam riwayat yang dicatat oleh Imam As-Suyuthi dalam Tarikh al-Khulafa, Abu Bakar pernah berniat kembali berdagang untuk menafkahi keluarganya meski sudah menjadi khalifah.
Melihat hal itu, para sahabat menyarankan agar beliau diberikan santunan dari baitul mal agar fokus memimpin umat.
Namun, meski menerima, Abu Bakar mengambilnya dalam jumlah sangat terbatas, sekadar untuk makan sehari-hari dan pakaian sederhana.
Menolak Kekayaan dari Jabatan
Kesederhanaan Abu Bakar juga tampak ketika beliau wafat. Menurut catatan Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wa An-Nihayah, warisan yang ditinggalkan tidak berupa harta melimpah, melainkan kain sederhana, seekor unta, dan seorang pelayan.
Semua itu bahkan beliau wasiatkan agar dikembalikan ke baitul mal, karena dianggap sebagai amanah umat.
Hal ini menegaskan betapa kuatnya prinsip Abu Bakar dalam menjaga diri dari godaan dunia.
Baginya, jabatan bukanlah jalan menuju kekayaan, melainkan ladang untuk mengabdi kepada Allah dan umat Islam.
Kisah Mengurus Kambing Janda Tua
Salah satu kisah populer yang memperlihatkan kesederhanaan Abu Bakar tercatat dalam Shahih al-Bukhari.
Meski sudah menjadi khalifah, beliau tetap datang ke rumah seorang janda tua untuk memerah susu kambing miliknya.
Ketika janda itu khawatir Abu Bakar tidak akan lagi sempat membantunya, beliau menjawab dengan rendah hati:












