Sumatera Utara

Pemprov Sumut Pede Bisa Jinakkan Harga Cabai Lewat Program JASKOP

422
×

Pemprov Sumut Pede Bisa Jinakkan Harga Cabai Lewat Program JASKOP

Sebarkan artikel ini

TERITORIAL24.COM, MEDAN – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Utara (Sumut) lagi-lagi bicara soal inflasi. Kali ini lewat program Jaminan Stabilisasi Harga Komoditi Pangan alias JASKOP.

Tujuannya cukup mulia: harga di petani jangan terlalu murah, harga di konsumen jangan terlalu mahal, dan inflasi tetap bisa dikendalikan.

“Asasnya sederhana, petani tidak rugi, konsumen juga tidak teriak-teriak. Jadi inflasi bisa lebih stabil,” kata Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sumut, Effendy Pohan, saat temu pers bersama jajaran OPD di Lobby Dekranasda, Kantor Gubernur Sumut, Kamis (18/9/2025).

Data BPS menunjukkan inflasi year on year Sumut di Agustus 2025 tembus 4,42%, dengan pangan jadi biang kerok utama.

Karena itu, Pemprov mulai gerak cepat. Salah satu jurus andalan: membangun 10 solar dryer dome (SDD) di Batubara dan Karo, dua kabupaten penghasil cabai merah terbesar.

“Desember ini pembangunan selesai, jadi tahun depan saat panen cabai, SDD sudah bisa dipakai,” kata Lambok Turnip, Kabid Hortikultura Dinas Ketahanan Pangan dan Hortikultura Sumut.

SDD ini intinya semacam rumah pengering cabai. Satu unit bisa menampung dua ton cabai merah. Dengan begitu, cabai bisa lebih awet, harga tidak gampang anjlok, dan petani bisa sedikit bernapas lega.

Unitnya nanti dihibahkan ke Gapoktan, sementara urusan distribusi dan penyimpanan akan melibatkan BUMD.

Kepala Dinas Perindag Sumut, Fitra Kurnia, menambahkan pihaknya juga mengandalkan aplikasi Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok dari Kemendag untuk deteksi dini harga.

“Contoh waktu harga ayam Rp28 ribu, ibu-ibu senang, tapi peternak komplain. Begitu naik ke Rp30 ribu, sistem langsung kasih notifikasi.Dari situ bisa kami antisipasi sebelum melonjak terlalu tinggi,” jelasnya.

Sementara itu, Kadis Perkebunan dan Peternakan Sumut, M. Zakir Syarif Daulay, mengaku rutin memantau harga produk peternakan seperti ayam dan telur. Kerja sama dengan pelaku usaha juga terus dijalankan biar semua pihak – peternak, pedagang, sampai masyarakat – tidak ada yang merasa buntung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *