TERITORIAL24.COM, MEDAN – Akhir pekan di Sumatera Utara tampak lebih ramai dari biasanya. Bukan karena konser, tapi karena sebuah tulisan media lokal yang menuding Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, melakukan “kejahatan kekuasaan” lewat kelompok media yang disebut sebagai “Media Bapak”.
Artikel yang terbit pada Sabtu (11/10/2025) itu menyebut penggunaan dana publik untuk membiayai media tertentu dan menyinggung adanya penghalangan terhadap wartawan perempuan dalam sebuah pelantikan pejabat di Kantor Gubernur.
Tulisan tersebut langsung jadi bahan perbincangan di jagat maya. Namun, di sisi lain, ada juga yang menilai berita itu terlalu beraroma politik.
Barensius Saragih, pemerhati sosial dari Barisan Rakyat Peduli Negara (BRPN), menyebut tulisan itu seperti percikan api dari orang-orang yang tidak nyaman dengan perubahan.
“Biasalah, mungkin ada yang sudah terlalu nyaman dengan situasi lama. Bobby datang dengan gaya baru, mereka jadi gusar,” kata Baren. “Biasanya kelompok seperti ini sering disebut barisan sakit hati.”
Menurut Baren, Bobby Nasution sedang membawa Sumut ke arah yang lebih modern dan hasil-oriented.
“Setiap pemimpin punya gaya sendiri. Biarlah era Bobby ini berjalan dulu, nanti kalau ganti gubernur, ya ganti gaya lagi,” tambahnya santai.
Soal tudingan penggunaan dana publik, Baren berpesan agar pihak-pihak yang merasa dirugikan tidak menembak lewat media. “Kalau memang ada pelanggaran, gunakan jalur hukum. Ada UU KIP, ada Ombudsman, ada UU Pers. Laporkan dengan bukti, jangan cuma bikin opini.”
Ia juga mengingatkan agar hubungan antara pemerintah dan media tetap berjalan sehat.
“Media dan pemerintah itu harusnya saling mengawasi, bukan saling menjatuhkan. Pemimpin tahu kok, mana media yang objektif dan mana yang cuma cari sensasi.”
Di tengah panasnya isu itu, satu hal yang jelas: gaya kepemimpinan Bobby Nasution memang sedang membawa warna baru di Sumut. Entah disukai atau tidak, gaya ini tampaknya belum akan reda jadi bahan omongan dalam waktu dekat. (Red)












