Kota Medan

Kaget Dulu, Lega Kemudian: Gempa di Kantor Wali Kota Medan Ternyata Cuma Simulasi

320
×

Kaget Dulu, Lega Kemudian: Gempa di Kantor Wali Kota Medan Ternyata Cuma Simulasi

Sebarkan artikel ini

TERITORIAL24.COM, MEDAN – Suasana di kantor Wali Kota Medan, Selasa (4/11/2025), mendadak seperti adegan film bencana.

Sirene meraung, pegawai panik, Wali Kota Rico Tri Putra Bayu Waas berlindung di bawah meja, dan beberapa orang terlihat terluka. Tapi sebelum warganet keburu panik dan bikin thread “Medan Bergetar Lagi”, tenang dulu—semuanya cuma simulasi.

Sekitar pukul 10.00 pagi, sirene tanda bahaya berbunyi dari gedung kantor wali kota yang punya empat lantai itu.

Para pegawai refleks mencari perlindungan. Di ruang rapat, Rico Waas yang sedang memimpin pertemuan bersama pimpinan perangkat daerah dan camat juga ikut tiarap di bawah meja sambil menutupi kepala.

Setelah satu menit yang terasa lama, suara sirene berhenti. Petugas keamanan segera mengevakuasi seluruh penghuni gedung ke titik kumpul di halaman. Beberapa pegawai terlihat “terluka”—tentu saja ini bagian dari skenario.

Sementara itu, untuk menambah ketegangan, terdengar juga suara ledakan kecil yang disebut akibat korsleting listrik dan memicu kebakaran di lantai empat.

Tak lama, tim gabungan datang lengkap dengan peralatan: Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat), BPBD, Satpol PP, Dinas Kesehatan, hingga elemen pentahelix seperti TNI, Polri, PMI, Orari, Rapi, dan para relawan. Beberapa petugas memadamkan api, sebagian lagi mengevakuasi korban simulasi menggunakan tali vertical rescue dan mobil tangga.

Menariknya, di tengah kekacauan simulasi itu, Wali Kota Rico Waas juga ikut turun tangan membantu mengangkat tandu berisi “korban” dan menenangkan pegawai yang tampak panik.

“Kita semua harus siap siaga. Bencana tidak tahu kapan datangnya,” katanya.

Rico menjelaskan, simulasi siaga bencana ini diadakan BPBD Kota Medan untuk melatih kesiapsiagaan pegawai dan masyarakat terhadap gempa bumi. Ia mengingatkan bahwa wilayah barat Indonesia, termasuk Sumatera Utara, berada di jalur cincin api yang rawan gempa.

“Kita ingat 2004 di Aceh, 2005 di Nias. Getarannya sampai ke Medan. Jadi latihan seperti ini perlu supaya kita tahu harus ngapain dulu kalau gempa datang,” ujar Rico.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *