Advertorial

Pemkab Blitar Dorong Budidaya Cabai Off Season untuk Kendalikan Harga Selama Musim Hujan

415
×

Pemkab Blitar Dorong Budidaya Cabai Off Season untuk Kendalikan Harga Selama Musim Hujan

Sebarkan artikel ini

TERITORIAL24.COM, BLITAR – Pemerintah Kabupaten Blitar mulai menjalankan program budidaya cabai off season melalui Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) 2025.

Program ini menjadi langkah strategis Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) untuk menjaga ketersediaan cabai rawit saat musim hujan, ketika pasokan biasanya menurun dan harga melonjak.

Upaya ini sekaligus diharapkan menjadi penyangga inflasi daerah yang kerap dipicu gejolak harga cabai.

Kepala Bidang Sarana Tanaman Pangan dan Hortikultura DKPP, Siswoyo Adi Prasetyo, menegaskan bahwa cabai merupakan komoditas sensitif yang pergerakan harganya sangat cepat mempengaruhi inflasi. Karena itu, Pemkab Blitar memerlukan strategi pasokan tambahan yang bisa dipanen ketika sebagian besar petani tidak menanam.

Menurutnya, penanaman cabai off season saat musim penghujan diharapkan dapat menjadi solusi efektif untuk menstabilkan harga di pasar.

Melalui program DBHCHT 2025, pengembangan cabai off season difokuskan pada empat kecamatan, yakni Doko, Talun, Nglegok, dan Srengat.

Keempat wilayah tersebut dipilih karena dinilai paling siap dari sisi petani, kondisi lahan, serta pengalaman dalam mengelola hortikultura.

Di sisi lain, banyak petani di Blitar Utara enggan menanam cabai saat musim hujan karena lahan sawah sedang memasuki masa tanam padi.

Siswoyo menjelaskan bahwa risiko budidaya cabai pada musim penghujan cukup tinggi akibat meningkatnya serangan hama dan penyakit.

Karena itu, hanya petani berpengalaman di sektor hortikultura yang diprioritaskan mengikuti program ini.

Total lahan yang dikelola mencapai 16 hektare dan dibagi rata untuk empat kelompok tani, masing-masing mengelola sekitar empat hektare.

Untuk mendukung keberhasilan penanaman, DKPP menyediakan bantuan sarana produksi meliputi benih cabai rawit unggul yang tahan virus, pupuk kimia, pupuk organik, serta mulsa plastik untuk menjaga kualitas bedengan.

Hingga pertengahan November, proses pengadaan sarana masih berlangsung dan penanaman dijadwalkan dimulai Desember 2025.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *