Religi

Inshaallah, 11 Jamaah dari Medan Berangkat Khuruj Empat Bulan ke Papua Barat

238
×

Inshaallah, 11 Jamaah dari Medan Berangkat Khuruj Empat Bulan ke Papua Barat

Sebarkan artikel ini

TERITORIAL24.COM, MEDAN – Di saat sebagian orang sibuk menghitung cuti tahunan dan kalender long weekend, sebelas orang jamaah dari Medan justru menyiapkan koper untuk perjalanan yang jauh lebih panjang dan tidak semua orang sanggup menjalaninya: khuruj empat bulan ke Manokwari, Papua Barat.

Tanpa baliho. Tanpa konferensi pers. Tanpa unggahan reels motivasi.

Yang ada hanya niat, tas sederhana, dan keyakinan bahwa dakwah harus dijalani dengan cara berpindah, berjalan, dan menyapa.

Mereka adalah bagian dari Jama’ah Tabligh, sebuah gerakan dakwah Islam yang mungkin sering kita jumpai diam-diam: berjubah, bersorban, ramah, mengetuk pintu masjid ke masjid, mengajak salat berjamaah, dan mengingatkan hal-hal yang sangat mendasar—tentang iman, amal, dan akhlak.

Salah satu jamaah, Muhammad Izzuddin, mengatakan bahwa keberangkatan ini didahului dengan Bayan Hidayah di Markaz Masjid Al Madani, Marelan, Medan, pekan lalu. Bayan ini bukan sekadar seremoni, tapi semacam “pamitan spiritual”—penguatan niat sebelum benar-benar meninggalkan rumah, keluarga, dan rutinitas.

 

“Kami melakukan khuruj dakwah empat bulan ke Manokwari, Papua Barat,” ujar Izzuddin, Selasa, 3 Februari 2026.

 

Empat bulan. Bukan empat hari. Bukan empat pekan.

Dalam konteks dunia modern yang serba cepat dan terikat target, empat bulan tanpa gaji, tanpa kepastian sinyal, tanpa kasur empuk hotel, terdengar seperti keputusan yang… nekat. Tapi bagi Jama’ah Tabligh, khuruj bukan soal heroisme, apalagi petualangan religius. Ia adalah latihan hidup.

Latihan sabar. Latihan rendah hati. Latihan mendahulukan dakwah daripada kenyamanan pribadi.

Khuruj dalam tradisi Jama’ah Tabligh berarti meninggalkan zona aman untuk sementara waktu. Para jamaah hidup sederhana, makan apa adanya, tidur di masjid, dan berdakwah dari mulut ke mulut.

Tidak ada mimbar megah. Tidak ada panggung diskusi teologis yang rumit. Dakwah mereka justru sangat membumi: mengajak salat, menghidupkan masjid, memperbaiki akhlak, dan menguatkan ukhuwah.

Pilihan Manokwari sebagai tujuan khuruj juga bukan tanpa makna. Papua Barat, dengan segala keragaman budaya dan tantangannya, menjadi ladang dakwah yang menuntut kepekaan sosial tinggi. Jama’ah Tabligh tidak datang untuk “menggurui”, apalagi merasa lebih suci. Mereka datang sebagai tamu—belajar sekaligus mengajak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *