Dalam dunia yang semakin riuh oleh debat identitas, keberangkatan sebelas jamaah ini terasa seperti anomali yang menenangkan. Mereka tidak sibuk memperdebatkan siapa paling benar. Mereka hanya bergerak, pelan-pelan, dari masjid ke masjid, dari hati ke hati.
Barangkali inilah bentuk dakwah yang sering luput dari sorotan: tidak viral, tidak kontroversial, tapi konsisten. Tidak keras, tidak gaduh, tapi sabar.
Empat bulan ke depan, saat sebagian dari kita sibuk mengeluh soal pekerjaan, cuaca, atau harga kopi yang naik, sebelas orang dari Medan ini akan menjalani hari-hari dengan satu agenda utama: menyampaikan kebaikan sebisanya, lalu pulang dengan harapan iman yang lebih kuat.
Sisanya, mereka serahkan sepenuhnya—kepada Allah.(Akbar)












