TERITORIAL24.COMSERDANG BEDAGAI – Di bawah naungan kubah Masjid Nurun Nabawi, Desa Buluh Duri, Kecamatan Sipispis, sebuah pesan spiritual mendalam mengalun di tengah kekhusyukan salat Jumat.
Ustadz Suherman C. Lesmana, S.Pd, hadir sebagai khatib dengan membawa narasi besar mengenai peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW, yang ia transformasikan sebagai kompas spiritual bagi umat Islam dalam menyongsong fajar Ramadan 1447 H,Jumat(13/2/2026).
Dalam khutbahnya, Ustadz Suherman menegaskan bahwa Isra’ Mi’raj bukan sekadar perjalanan menembus ruang dan waktu, melainkan sebuah proses “penyucian” dan “penguatan” sebelum menerima amanah besar.
Pesan ini diringkas ke dalam lima esensi fundamental yang menjadi bekal menuju bulan suci:
1. Manifestasi Iman di Atas Logika Manusia
Ustadz Suherman mengawali khutbah dengan mengingatkan kembali bagaimana peristiwa Isra’ Mi’raj menjadi ajang pembeda antara mereka yang ragu dan yang beriman murni.
Di ambang Ramadan 1447 H, ia menekankan bahwa berpuasa memerlukan keyakinan yang sama.
“Sebagaimana banyak yang mengingkari Isra’ Mi’raj, ibadah puasa pun menuntut kepatuhan mutlak pada yang gaib, sebuah ujian loyalitas hamba kepada Sang Pencipta,” tuturnya.
2. Tasliyah: Oase Spiritual di Tengah Ujian Hidup
Mengingat peristiwa Amul Huzni (Tahun Kesedihan) saat Rasulullah kehilangan Siti Khodijah dan Abu Thalib, serta duka di Thaif, Isra’ Mi’raj hadir sebagai bentuk Tasliyah atau penghiburan dari Allah.
Relevansinya bagi jamaah di Kabupaten Serdang Bedagai adalah menjadikan Ramadan 1447 H sebagai momentum penyembuhan (healing) atas segala luka duniawi melalui kedekatan dengan Al-Qur’an dan doa.
3. Filosofi Pembelahan Dada: Operasi Spiritual Hati
Satu poin krusial yang diangkat adalah pencucian jantung Rasulullah dengan air Zam-zam sebelum Mi’raj.
Ustadz Suherman memberikan analogi bahwa Ramadan adalah perjalanan “naik” menuju Allah. “Tak mungkin kita sampai ke Sidratul Muntaha-nya ketakwaan jika hati masih kotor. Sebelum Ramadan tiba, bersihkan diri dari noda iri, dengki, dan sombong,” tegas beliau.












