Religi

Tadabbur Al-Anfal Ayat 24–25: Jangan Tunda Ketaatan, Waspadai Dampak Suatu Kemungkaran

122
×

Tadabbur Al-Anfal Ayat 24–25: Jangan Tunda Ketaatan, Waspadai Dampak Suatu Kemungkaran

Sebarkan artikel ini

Oleh: Assoc. Prof. Dr. H. Usman Jakfar, Lc., M.A.(Penulis Buku Tadabbur Al-Qur’an)

Assoc. Prof. Dr. H. Usman Jakfar, Lc., M.A., penulis buku Tadabbur Al-Qur’an, mengajak umat Islam mengambil pelajaran dari Surah Al-Anfal ayat 24–25 tentang pentingnya menyegerakan ketaatan kepada Allah SWT serta mewaspadai dampak kemungkaran dalam kehidupan bermasyarakat.(Ist)

MEDAN | TERITORIAL24.COM -Dalam perspektif Islam, ketaatan kepada Allah SWT bukan sekadar kewajiban individual, melainkan fondasi pembentukan pribadi yang berakhlak sekaligus masyarakat yang berkeadilan.

Al-Qur’an tidak hanya membimbing manusia untuk memperbaiki hubungan dengan Allah, tetapi juga mengarahkan mereka agar memiliki tanggung jawab terhadap kehidupan sosial.

Pesan mendalam tersebut tercermin dalam Surah Al-Anfal ayat 24–25. Kedua ayat ini menghadirkan dua prinsip yang saling berkaitan: pentingnya segera menyambut seruan Allah dan Rasul-Nya serta kewajiban mewaspadai dampak suatu kemungkaran yang dapat meluas melampaui pelaku utamanya.

Ayat ke-24 menekankan urgensi ketaatan sebagai jalan menuju kehidupan yang hakiki, sedangkan ayat ke-25 mengingatkan bahwa pembiaran terhadap kerusakan dapat mendatangkan konsekuensi sosial yang tidak hanya dirasakan oleh orang-orang yang berbuat zalim.

Melalui tadabbur kedua ayat tersebut, umat Islam diajak memahami bahwa keimanan harus diwujudkan dalam dua ranah sekaligus, yakni kesalehan pribadi dan kepedulian sosial.

Ketaatan kepada Allah Merupakan Jalan Menghidupkan Hati

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Anfal ayat 24:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ

*“Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah seruan Allah dan Rasul apabila dia menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu.”* (QS. Al-Anfal: 24).

Ayat ini diawali dengan seruan *yā ayyuhalladzīna āmanū*, yang ditujukan kepada orang-orang beriman.

Seruan tersebut menegaskan bahwa iman menuntut respons nyata, bukan sekadar pengakuan lisan atau keyakinan yang tersimpan di dalam hati.

Perintah istajībū berarti memenuhi atau menyambut seruan. Dalam konteks ayat ini, orang-orang beriman diperintahkan untuk merespons petunjuk Allah dan Rasul-Nya dengan ketaatan yang sungguh-sungguh.

Adapun frasa limā yuḥyīkum, yang berarti sesuatu yang memberikan kehidupan kepada kalian, mengandung makna yang luas.

Kehidupan yang dimaksud tidak hanya terbatas pada aspek biologis, tetapi juga mencakup kehidupan spiritual, moral, intelektual, dan sosial.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *