Kota Medan

Puncak MFCF 2026, Rico Waas Harap Tenun Lokal Medan Mendunia

208
×

Puncak MFCF 2026, Rico Waas Harap Tenun Lokal Medan Mendunia

Sebarkan artikel ini

MEDAN I TERITORIAL24.COM – Peringatan Hari Ulos Nasional mewarnai puncak Medan Fashion Culture Festival (MFCF) 2026 bertema Ulos in Innovation di Atrium Sun Plaza Medan, Sabtu (17/10/2026).

 

Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas berharap tenun tradisional dan produk kriya lokal mampu menembus pasar nasional hingga internasional.

 

Rico Waas bersama Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Medan, Airin Rico Waas, menegaskan pentingnya penguatan ekosistem industri fashion berbasis budaya melalui pembinaan pengrajin, peningkatan kualitas produk, pengembangan desainer, serta perluasan akses pemasaran.

 

Rico mengatakan, MFCF menjadi salah satu upaya untuk mengembangkan potensi kriya Nusantara yang dihasilkan pengrajin, desainer, dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kota Medan.

 

“Target kita adalah bagaimana mengembangkan kriya Nusantara yang diproduksi dari Kota Medan. Banyak desainer dan UMKM kita memiliki karya kreatif dengan nilai sejarah puluhan hingga ratusan tahun,” ujar Rico.

 

Menurutnya, karya-karya tersebut perlu diperkenalkan lebih luas agar masyarakat bangga terhadap produk lokal sekaligus menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia memiliki produk fashion dan kriya berkualitas tinggi.

 

Ia menambahkan, pengembangan industri kriya tidak cukup hanya berfokus pada desainer dan penjahit, tetapi juga harus melibatkan pengrajin, penjual, strategi promosi, hingga upaya mewariskan keterampilan kepada generasi berikutnya.

 

Pemko Medan, lanjut Rico, menyiapkan pembinaan berkelanjutan, pelatihan peningkatan kualitas produk, serta kolaborasi dalam berbagai pameran di luar daerah. Jejaring kerja sama *sister city* dengan sejumlah negara juga diharapkan menjadi jalur untuk memperkenalkan produk UMKM Medan ke pasar internasional.

 

Rico turut mengajak masyarakat membiasakan penggunaan Ulos dalam kehidupan sehari-hari, termasuk melalui busana modern yang tetap menghormati nilai tradisional.

 

“Tak kenal maka tak sayang. Kalau kita sudah mengenal akar budaya dan sejarah Ulos, tentu kita akan semakin mencintainya,” ungkapnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *