TERITORIAL24.COM,Tel Aviv –Tekanan dari dalam militer Israel terhadap pemerintah kian meningkat seiring dengan desakan sejumlah besar prajurit dan veteran untuk menghentikan operasi militer di Jalur Gaza demi pembebasan para sandera.
Sekitar 150 mantan prajurit dari Brigade Golani, unit tempur elite yang memiliki sejarah panjang dalam keterlibatan konflik besar Israel, menandatangani petisi yang menuntut agar pemerintah memprioritaskan pembebasan sandera, meskipun hal itu harus dibayar dengan penghentian perang secara segera.
Petisi tersebut mendapat sorotan luas setelah Radio Militer Israel melaporkan bahwa para penandatangan menyatakan dukungan terhadap seruan yang lebih dulu dilontarkan para pilot Angkatan Udara Israel.
Para pilot tersebut menuntut pembebasan sandera tanpa penundaan, meski harus mengakhiri operasi militer yang saat ini masih berlangsung di Gaza.
Dalam 48 jam terakhir, ribuan warga Israel dari berbagai kalangan—baik sipil maupun militer cadangan—turut menyuarakan desakan serupa.
Di antaranya termasuk lebih dari 1.500 personel cadangan Korps Lapis Baja, 1.600 veteran brigade pasukan terjun payung dan infanteri, puluhan tentara aktif Korps Lapis Baja, 150 mantan perwira Angkatan Laut, 100 dokter militer cadangan, serta ratusan personel Unit Intelijen 8200.
Desakan ini juga mendapat dukungan dari masyarakat sipil. Tercatat lebih dari 3.500 akademisi, 3.000 tenaga pendidik, dan lebih dari 1.000 orang tua menandatangani petisi yang disampaikan pada Senin (14/4), yang berisi tuntutan agar perang dihentikan dan para sandera segera dipulangkan.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, merespons keras gerakan tersebut.
Ia menyebutnya sebagai bentuk penolakan bertugas yang dapat melemahkan posisi Israel di tengah perang.
Netanyahu memperingatkan bahwa para penandatangan dari kalangan militer cadangan dapat dikenakan sanksi hingga pemberhentian.
“Ini adalah bentuk pembangkangan yang hanya akan memperkuat musuh,” kata Netanyahu dalam pernyataannya.
Sejak pecahnya perang pada 7 Oktober 2023, Israel telah mengerahkan sekitar 360.000 personel cadangan untuk operasi militer di Jalur Gaza, menyusul serangan besar-besaran yang dilancarkan oleh kelompok Hamas pada tanggal tersebut.












