TERITORIAL24.COM,Tebing Tinggi– Aksi penertiban pedagang kaki lima (PKL) oleh Satpol PP Kota Tebing Tinggi pada Rabu (14/5) memicu kritik tajam dari warga.
Penertiban PKL yang dilakukan di depan Rumah Sakit Pamela dinilai tidak adil dan sarat kepentingan.
Sementara keberadaan PKL di kawasan lain yang justru lebih parah pelanggarannya, seperti Jalan Sutomo, Jalan Iskandar Muda, kawasan Cong Api, dan seputaran Angkang, justru luput dari tindakan.
Petugas terlihat mengangkut barang dagangan milik pedagang, termasuk buah-buahan yang ditata di atas trotoar.
Namun publik mempertanyakan, mengapa hanya PKL di depan RS Pamela yang ditindak, sementara pelanggaran serupa—bahkan lebih parah—justru dibiarkan menjamur di pusat kota.
“Jalan Sutomo itu jantung kota. Setiap hari dilewati Wali Kota, DPRD, dan pejabat Pemko. Tapi PKL di sana bebas berjualan di badan jalan, kanan-kiri, tanpa ada tindakan. Ini jelas pembiaran,” tegas seorang warga yang menyaksikan langsung aktivitas semrawut di kawasan tersebut.
Kondisi itu semakin menimbulkan kecurigaan adanya “pilih kasih” dalam penegakan aturan.
Terlebih, kawasan Lapangan Merdeka—ikon pusat kota—justru menjadi salah satu titik paling parah dalam penyempitan jalan akibat PKL.
Ketika reporter Palapa TV,Jhoni.S, mencoba meminta konfirmasi kepada Kepala Bidang Satpol PP, diperoleh pernyataan mengejutkan.
Penertiban di depan RS Pamela ternyata merupakan instruksi langsung dari Wali Kota Tebing Tinggi.
“Itu perintah Pak Wali Kota. Kalau Satpol PP tidak sanggup menertibkan pedagang di depan RS Pamela, lebih baik keluar saja dari Satpol PP,” ujar Kabid Satpol PP kepada reporter.
Pernyataan tersebut menimbulkan tanda tanya: mengapa penindakan dilakukan hanya berdasarkan “instruksi”, bukan berdasarkan prinsip keadilan dan penegakan aturan secara menyeluruh?
Warga mempertanyakan komitmen Pemerintah Kota Tebing Tinggi dalam menciptakan kota yang tertib, bersih, dan layak huni.
Dengan kondisi jalanan yang semrawut, sampah berserakan, dan penertiban yang tidak menyentuh pusat pelanggaran, upaya meraih penghargaan Adipura dinilai hanya mimpi kosong.












