Sumatera Utara

Geliat Literasi di Sidikalang

385
×

Geliat Literasi di Sidikalang

Sebarkan artikel ini

Kolaborasi kampus dan sekolah dasar memperkenalkan video animasi sebagai jembatan meningkatkan minat baca siswa

TERITORIAL24.COM, SIDIKALANG — Pagi di ruang kelas IV SD Negeri 030284 Sidikalang tak seperti biasanya. Alih-alih membuka buku pelajaran Bahasa Indonesia, para siswa tampak antusias menonton video animasi berdurasi sepuluh menit yang diputar lewat layar proyektor sederhana.

Tayangan itu menceritakan kisah seorang anak yang gemar membaca dan menemukan petualangan lewat buku. Tak lama kemudian, terdengar celoteh ramai anak-anak saat sesi diskusi dimulai.

Kegiatan belajar itu merupakan bagian dari program pengabdian masyarakat yang digagas oleh tim dosen dan mahasiswa Universitas Quality.

Selama dua pekan pada Mei hingga Juni 2025, mereka turun langsung ke sekolah untuk membantu meningkatkan literasi siswa lewat pendekatan berbasis teknologi: video animasi edukatif.

“Anak-anak sekarang lebih cepat merespons materi yang disajikan secara visual dan menarik,” kata Ketua Tim Pengabdian, Restio Sidebang, S.Pd., M.Pd.

Bersama dua dosen lainnya, Karmila Br Karo, M.Si., dan Bijak Ginting, M.Hum., Restio mengembangkan konten video pendek yang disesuaikan dengan kurikulum kelas IV.

Setelah menonton, siswa diajak membaca teks cerita terkait, menjawab pertanyaan pemahaman, serta menuliskan ringkasan dengan bahasa mereka sendiri.

Format ini terbukti efektif. Guru kelas IV, yang dilibatkan penuh sebagai fasilitator, melaporkan peningkatan partisipasi siswa dalam bertanya, berdiskusi, hingga menulis.

“Biasanya mereka enggan membuka buku. Sekarang malah minta video baru tiap minggu,” kata salah satu guru sambil tersenyum.

Program ini bukan sekadar menyasar siswa. Para guru juga mendapat pelatihan singkat tentang penggunaan media digital dalam pembelajaran, dari cara memilih konten hingga menyusun rencana belajar berbasis video. “Kami ingin transfer teknologi ini tidak berhenti saat program selesai,” kata Restio.

Namun, perjalanan kegiatan ini tidak sepenuhnya mulus. Keterbatasan perangkat seperti proyektor, speaker, dan sumber daya listrik menjadi tantangan.

Tapi semangat gotong royong antara tim kampus dan sekolah berhasil menambalnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *