Berita Utama

Dari Balai Desa ke Harapan Ekonomi Warga, Koperasi “Merah Putih” Lahir di Purworejo

369
×

Dari Balai Desa ke Harapan Ekonomi Warga, Koperasi “Merah Putih” Lahir di Purworejo

Sebarkan artikel ini

TERITORIAL24.COM, BLITAR – Langit pagi Desa Purworejo, Kecamatan Sanankulon, Kabupaten Blitar, Rabu, 14 Mei 2025, cerah tak berawan.

Di Balai Desa, puluhan kursi plastik mulai terisi. Warga dari berbagai elemen—ibu-ibu PKK, kelompok tani, pendamping desa, hingga tokoh masyarakat—datang bukan untuk hajatan, melainkan membicarakan satu hal besar: masa depan ekonomi mereka.

Pemerintah Desa menggelar Musyawarah Desa Khusus (Musdesus) untuk membentuk Koperasi “Merah Putih”.

Sebuah langkah strategis yang, menurut Kepala Desa Kalinggo Purnomo, bukan sekadar program pusat, tapi ikhtiar nyata memberdayakan warga.

“Ini bukan hanya menuruti aturan. Ini soal bagaimana desa berdiri di atas kaki sendiri,” kata Kalinggo di hadapan peserta musyawarah.

Ia merujuk pada Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2025, yang mendorong percepatan pembentukan koperasi desa sebagai tulang punggung ekonomi kerakyatan.

Koperasi “Merah Putih” dirancang untuk mengelola berbagai lini usaha: dari sembako dan pupuk, elpiji, simpan pinjam, hingga layanan pertanian.

Semua demi memangkas ketergantungan pada tengkulak dan membuka ruang akses modal bagi warga kecil.

Tak hanya bicara konsep, Musdes hari itu menetapkan seluruh peserta sebagai pendiri koperasi.

Struktur pengurusnya akan dibentuk secara transparan dan bebas konflik kepentingan.

“Tak boleh ada kepengurusan berdasarkan hubungan darah,” tegas Kalinggo.

Camat Sanankulon Ahmad Basuki Wibowo turut hadir dalam kegiatan ini. Ia menyebut koperasi sebagai instrumen vital agar desa tak hanya jadi penerima program, tapi juga produsen kesejahteraan.

“Musdes ini fondasi awalnya,” katanya. Seluruh desa di Sanankulon ditargetkan membentuk koperasi serupa sebelum 12 Juli 2025.

Dari ruang balai desa itu, semangat gotong royong kembali ditegakkan. Bukan dengan cangkul dan bambu runcing, tapi lewat pembukuan, rapat, dan mimpi kolektif soal kemandirian ekonomi.

Warga Purworejo tahu, jalan menuju sejahtera masih panjang. Tapi hari itu, mereka mengambil langkah pertama.(Didik)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *