Mereka bertiga—Poniyah, Ponirem, dan Zuhari—makan siang bersama di bawah pohon mangga.
Ada satu cucu kecil yang duduk di dekat mereka, matanya berbinar melihat nasi dan lauk di atas daun pisang. Bukan jamuan mewah, tapi terasa seperti pesta kecil bagi mereka.
“Saya hanya berbagi sedikit rezeki. Doakan saya agar terus bisa membantu orang-orang seperti Bapak dan Ibu,” ucap Zuhari, yang siang itu lebih banyak mendengar daripada berbicara.
Tanpa sponsor, tak ada spanduk bantuan. Hanya pohon mangga yang jadi saksi sunyi tentang kehidupan yang terus berjuang, tentang kemiskinan yang tak berteriak, dan tentang satu muk beras yang menyatukan dua jiwa renta dalam sabar dan cinta.(SMSI)












