Deli Serdang - Serdang Bedagai

Di Bawah Pohon Mangga, Pasangan Lansia Bertahan Hidup Dengan Sisa Beras dan Harapan

455
×

Di Bawah Pohon Mangga, Pasangan Lansia Bertahan Hidup Dengan Sisa Beras dan Harapan

Sebarkan artikel ini

TERITORIAL24.COM, SERDANGBEDAGAI – Di sebuah rumah berdinding tepas dan berlantaikan tanah di Dusun VI, Desa Sialang Buah, Kecamatan Teluk Mengkudu, Kabupaten Serdang Bedagai, sepasang suami istri duduk diam di bawah pohon mangga.

Bukan untuk menikmati angin siang atau segelas teh manis, melainkan menahan lapar dan kebingungan. Beras mereka tinggal satu muk—sekitar segenggam lebih sedikit. Sarapan pagi dilewati, makan siang pun belum tentu.

“Kalau tak ada yang bantu, kami hanya bisa makan bubur dari beras itu, buat siang sama malam,” ujar Poniyah, 67 tahun, pelan. Suaminya, Ponirem, 65 tahun, duduk di sampingnya, diam dan lesu.

Ia hanya punya Rp20 ribu di kantong, uang yang sejatinya ia simpan untuk membeli bensin becak motornya—satu-satunya sumber nafkah.

Dua hari terakhir tak ada pelanggan. Ponirem, meski menderita TBC kronis, tetap memaksa menarik betor mengangkut bahan bangunan dari panglong. Ia tak punya pilihan. “Kalau tak kerja, kami makan dari mana?” gumamnya.

Satu hal sepele, tapi begitu menyayat: gula. Poniyah yang mengidap diabetes, sempat memarahi sang suami karena tak bisa membelikannya gula rendah kalori.

“Saya marah karena badan lemas, pikiran semrawut, dan saya tahu dia memang tak punya uang,” kata Poniyah sambil mengusap air mata yang mengalir.

Rumah yang mereka tempati berdiri di atas tanah orang lain. Atap sengnya bocor, dapurnya becek saat hujan turun. Tak ada listrik yang stabil, apalagi air bersih mengalir.

Mereka mengandalkan bantuan pemerintah yang terakhir kali mereka terima saat Ramadan lalu. Itu pun kini sudah habis.

Namun, siang itu tak hanya panas yang datang. Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kabupaten Serdang Bedagai, Zuhari, tiba membawa sekarung harapan, Minggu (11/5/2025).

Ia menyambangi rumah itu membawa beras, gula pasir, dan minyak goreng. Tak banyak, tapi cukup untuk mengganjal lapar beberapa hari ke depan.

“Allah kirimkan rezeki lewat Pak Zuhari,” kata Poniyah, menggenggam tangan suaminya. “Kalau tak datang tadi, kami mungkin sudah makan bubur saja hari ini.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *