“Habis anggaran miliaran rupiah untuk pengelolaan wisata di sana, tengok saja gedung Warenhuis hanya menjadi gudang,” paparnya.
Belum selesai soal gedung, Godfried juga menyinggung angka kunjungan wisata ke Medan pada 2026 yang disebutnya baru sekitar 400 orang.
Angka tersebut, menurut dia, menunjukkan perlunya strategi promosi yang lebih serius.
Sebab, kalau bicara ikon kuliner Medan, orang biasanya memang langsung ingat Bika Ambon, Bolu Meranti dan durian.
Masalahnya, menurut Godfried, produk-produk tersebut juga tidak terlihat gencar dipromosikan.
“Kota Medan hanya terkenal Bika Ambon, Bolu Meranti dan Durian. Tapi kita lihat saja mana ada promosi barang tersebut. Tak ada kita lihat promosi di reklame maupun billboard promosi barang dimaksud,” katanya.
Mau Bawa Keluarga ke Mana?
Kritik Godfried kemudian masuk ke wilayah yang lebih dekat dengan pengalaman warga.
Menurutnya, Medan masih minim pilihan destinasi wisata yang bisa ditawarkan kepada keluarga maupun wisatawan.
“Kita saja merasakan, kalau datang family kita ke Medan, tak tahu kita mau bawa ke mana, itu-itu saja, minim inovasi. Kalau kurang anggaran disampaikan saja,” sebutnya.
Kalimat terakhir itu mungkin sederhana, tetapi cukup menohok.
Sebab, wisata kota tidak cukup hanya mengandalkan slogan, festival sesekali, atau foto-foto pejabat di lokasi wisata.
Kalau warga sendiri bingung hendak mengajak tamunya jalan-jalan ke mana, barangkali memang ada yang perlu dievaluasi.
Godfried meminta Dinas Pariwisata menciptakan dan memaksimalkan wisata unggulan Kota Medan.
Ia juga mengingatkan agar identitas Medan sebagai Kota Melayu Deli tidak ditinggalkan.
Ornamen budaya Melayu, katanya, perlu tetap terlihat, termasuk pada bangunan milik pemerintah dan gapura di pintu masuk Kota Medan.
Godfried Curiga Kas Kosong, BKAD: Aman Bos
Lalu, apakah benar kas Pemko Medan sedang kosong?
Di sinilah cerita menjadi menarik.
Ketika dikonfirmasi, Plt BKAD Kota Medan Suluh Aulia Harahap justru membantah dugaan tersebut.












