TERITORIAL24.COM, MEDAN — Gubernur Sumatera Utara Muhammad Bobby Afif Nasution melantik empat pejabat eselon II di lingkungan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, Jumat (2/1/2026). Pesannya singkat, jelas, dan cukup menekan: kerja harus cepat, tapi jangan asal—terutama urusan bencana.
Empat pejabat yang dilantik masing-masing Rahmat Hidayat Siregar sebagai Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman, Nurbaiti Harahap sebagai Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu, Illyan Chandra sebagai Kepala Dinas Sosial, serta Sri Suraiani Purnamawati sebagai Direktur UPTD Khusus RS Jiwa Prof. Dr. M. Ildrem.
Menurut Bobby, keempat posisi itu berada di garda penting penanganan pascabencana. Dinas Perkim berurusan dengan pembangunan hunian tetap, DPMPTSP dituntut menggerakkan kembali roda ekonomi yang melambat, Dinas Sosial harus sigap membantu korban, sementara RS Jiwa berperan memulihkan kesehatan mental masyarakat terdampak.
“Saya minta bekerja cepat dan tepat karena kita perlu percepatan, terutama pemulihan pasca bencana,” kata Bobby saat memberi arahan usai pelantikan di Aula Raja Inal Siregar, Kantor Gubernur Sumut.
Ia juga kembali mengingatkan jargon andalannya: kolaborasi. Tapi, kata Bobby, kolaborasi bukan sekadar ramai-ramai kerja bareng, melainkan hasilnya harus benar-benar dirasakan masyarakat.
“Tahun 2026 banyak PR. Penyelesaian pascabencana itu salah satunya. Kolaborasi harus dimaknai sebagai kecepatan dan ketepatan,” ujarnya.
Bobby bahkan menyinggung soal tender yang kerap molor. Ia meminta agar program yang proses lelangnya terlalu lama sebaiknya dibatasi. Alasannya sederhana: kalau mulai kerja menjelang musim hujan, hasilnya sering tak maksimal.
“Maksimal lima atau enam bulan. Kalau bulan lima atau enam belum tender, kasih bintang saja. Kerjaannya bisa tidak selesai atau kualitasnya buruk,” kata Bobby, lugas.
Pelantikan ini turut dihadiri Wakil Gubernur Sumut Surya, para asisten gubernur, kepala OPD, serta pejabat di lingkungan Pemprov Sumut. Tahun baru, pejabat baru, dan target lama yang belum juga habis: kerja cepat, tepat, dan—kalau bisa—nggak setengah-setengah.(Anggi)












