Tebing Tinggi - Batu Bara

‎Pak Tino Sidin, Putra Jawa Kelahiran Tebing Tinggi yang Mendidik Lewat Gambar dan Keteladanan ‎

502
×

‎Pak Tino Sidin, Putra Jawa Kelahiran Tebing Tinggi yang Mendidik Lewat Gambar dan Keteladanan ‎

Sebarkan artikel ini
‎Tino Sidin begitu lekat di hati masyarakat Indonesia sebagai sosok inspiratif(foto: Twitter @txtdrjkt)

‎TERITORIAL24.COM,TEBING TINGGI- Nama Tino Sidin begitu lekat di hati masyarakat Indonesia sebagai sosok inspiratif yang memperkenalkan seni rupa kepada anak-anak dengan cara yang menyenangkan dan membumi.

‎Melalui program edukatif Gemar Menggambar di TVRI yang tayang selama lebih dari satu dekade, ia menjadi ikon pendidikan seni nasional.

‎Dilansir dari situs resmi Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, budaya.jogjaprov.go.id, Tino Sidin lahir pada 25 November 1925 di Kota Tebingtinggi, Sumatera Utara, dari keluarga berdarah Jawa.

‎Karena itu, ia dijuluki sebagai Pujakusuma,singkatan dari “putra Jawa kelahiran Sumatera.”

‎Kecintaan Tino Sidin terhadap dunia seni sudah tumbuh sejak usia belia.

‎Meski memulai secara otodidak, ia kemudian menempuh pendidikan formal di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta pada tahun 1960 hingga 1963.

‎Di kota budaya inilah ia memperdalam teknik dan wawasan seni rupa secara sistematis.

‎Kiprahnya mulai dikenal luas masyarakat Indonesia ketika ia membawakan acara televisi Gemar Menggambar yang mulai tayang secara nasional di TVRI sejak 1979 hingga 1989.

‎Program ini bukan hanya mengajarkan teknik menggambar, tetapi juga menanamkan rasa percaya diri dan apresiasi diri kepada anak-anak.

‎Setiap karya yang dikirimkan oleh pemirsa anak-anak selalu diapresiasi olehnya dengan kalimat legendaris: “Ya, bagus!”

‎Selain sebagai pendidik dan pemandu acara televisi, Tino Sidin juga dikenal sebagai pelukis produktif.

‎Ia menciptakan sejumlah lukisan bernilai tinggi, termasuk lukisan bertema keluarga dan budaya lokal.

‎Ia juga menulis buku dan komik edukatif yang hingga kini masih dikenang.

‎Pak Tino Sidin wafat di Jakarta pada 29 Desember 1995 karena kanker usus.

‎Sebagai penghormatan atas dedikasinya, keluarga mendirikan Museum Taman Tino Sidin di kediamannya di daerah Kasihan, Bantul, Yogyakarta.

‎Museum ini kini menjadi ruang edukasi terbuka yang menampilkan lukisan, sketsa, peralatan menggambar, meja kerja, serta catatan-catatan pribadinya.

‎Warisan Pak Tino bukan hanya pada karya seni yang ia tinggalkan, tetapi juga pada metode pendidikan yang ia pelopor sederhana, membangun semangat, dan menjangkau semua kalangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *