TERITORIAL24.COM, MEDAN – Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Sumatera Utara menggagas program pelayanan kesehatan mental bagi masyarakat Kota Medan.
Program ini direncanakan akan diuji coba di tiga titik layanan publik, seperti puskesmas, agar mudah diakses warga.
Ketua HIMPSI Sumut, Dr. Siti Aisyah, S.Psi., M.Psi, mengatakan gagasan tersebut disampaikan dalam pertemuan dengan Ketua Fraksi NasDem DPRD Medan, Afif Abdillah, di ruang Fraksi NasDem DPRD Medan, Senin (20/10/2025).
“Melalui Fraksi NasDem, kami berharap agar program konseling psikologis ini dapat diadakan secara resmi oleh pemerintah kota, baik melalui SDM pemerintah maupun lembaga masyarakat,” ujar Siti Aisyah, yang juga Dekan Fakultas Psikologi Universitas Medan Area.
Menurutnya, layanan kesehatan mental sangat dibutuhkan masyarakat yang mengalami trauma akibat kekerasan rumah tangga, bullying, hingga tekanan pekerjaan.
Namun, selama ini masyarakat sering kesulitan mengakses layanan psikolog karena keterbatasan informasi dan biaya.
Menanggapi hal itu, Afif Abdillah menyatakan dukungan penuh atas gagasan tersebut. Ia menyebut, Pemko Medan sebelumnya telah memiliki wacana serupa, namun belum terealisasi.
“Kami akan memfasilitasi agar program ini bisa masuk dalam program resmi pemerintah kota,” kata Afif.
Afif menuturkan, tahap awal layanan kesehatan mental akan diuji coba di satu hingga tiga titik puskesmas. Bila respons masyarakat positif, program akan diperluas.
“Untuk sementara, yang penting dimulai dulu. Manfaatnya besar bagi masyarakat,” ujarnya.
Ia mencontohkan, korban kekerasan dalam rumah tangga dan bullying di sekolah maupun tempat kerja sering kali menyimpan trauma tanpa tahu harus berkonsultasi ke mana.
“Karena itu, puskesmas bisa menjadi tempat yang mudah diakses untuk konseling,” tambahnya.
Program ini direncanakan diusulkan dalam anggaran APBD Kota Medan tahun 2026 melalui Dinas Kesehatan. HIMPSI Sumut akan terlibat dalam penyusunan mekanisme dan penyediaan tenaga psikolog.
Afif menekankan pentingnya layanan ini bagi generasi muda. “Enam dari sepuluh remaja di Indonesia memiliki kecenderungan bunuh diri. Ini alarm serius bagi kita semua. Karena itu, generasi muda seperti Gen Z dan Gen Alpha sangat membutuhkan perhatian dalam aspek kesehatan mental,” ujarnya.












