Bukti peninggalan Islam masih dapat ditemui di Barus hingga kini. Di kompleks pemakaman Mahligai terdapat nisan tua bertuliskan nama Syekh Rukunuddin yang wafat pada tahun 672 M/46 H.
Selain itu, ada pula makam Syekh Machmudsyah di Bukit Papan Tinggi yang wafat pada 440 H.
Di Kanton, Barus juga berdiri masjid kuno yang disebut-sebut sebagai salah satu masjid tertua setelah Masjid Nabawi.
Pentingnya Safari Ziarah bagi Umat Islam
Ustadz Muslim Istiqomah, SSQ menegaskan bahwa Safari Ziarah bukan hanya perjalanan spiritual, melainkan juga sarana untuk membangkitkan kesadaran umat Islam akan sejarah panjang peradaban mereka.
“Semoga Safari Ziarah ini menjadi spirit bagi kita umat Islam untuk menghidupkan peradaban Islam di Nusantara,”ujarnya.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa menjaga sejarah Islam sama artinya dengan menjaga identitas keislaman di tengah perkembangan zaman.
Safari Ziarah ke Barus diharapkan dapat menjadi pengingat bagi generasi muda bahwa Islam telah hadir di Nusantara sejak abad ke-7 Masehi dan berkembang pesat melalui interaksi perdagangan, dakwah, dan kebudayaan.
Spirit Peradaban Islam Nusantara
Barus bukan hanya kota perdagangan, tetapi juga gerbang masuknya Islam ke Indonesia.
Dari Barus, ajaran Islam meluas ke berbagai wilayah Sumatra dan kemudian ke seluruh Nusantara.
Peran penting ini menjadikan Barus sebagai simbol awal tumbuhnya peradaban Islam di Indonesia.
Melalui Safari Ziarah yang dipimpin ulama dan tokoh agama, umat Islam diajak untuk kembali meresapi makna sejarah.
Kehadiran para habaib dan ulama di Barus juga menjadi penegas bahwa peradaban Islam di Nusantara harus terus dirawat dengan ilmu, amal, dan doa.
Safari Ziarah di Barus tahun ini tidak hanya menjadi perjalanan spiritual, tetapi juga momentum untuk menghidupkan kembali kesadaran umat Islam tentang pentingnya menjaga jejak sejarah yang telah diwariskan sejak berabad-abad lalu.
Dengan demikian, peradaban Islam di Nusantara akan tetap hidup dan terus berkembang di masa depan.***












