TERITORIAL24.COM, MEDAN – Di tengah kabar duka yang terus datang dari berbagai wilayah di Sumatera akibat bencana alam, sekelompok mahasiswa Universitas Tjut Nyak Dhein Medan memilih untuk tak hanya bersimpati dari jauh.
Mereka berkumpul, berdiskusi, merencanakan aksi, dan akhirnya membentuk sebuah Satgas Penggalangan Dana yang dipimpin oleh seorang mahasiswa bernama Tirta Harapan, Kamis 4 Desember 2025.
Tirta bukan sosok yang banyak bicara. Namun, ketika namanya terpilih sebagai Ketua Satgas, ia menerima amanah itu dengan tegas.
Baginya, bencana bukan sekadar angka kerugian dan jumlah korban, melainkan panggilan kemanusiaan yang harus dijawab dengan tindakan.
“Kami dibentuk untuk membantu masyarakat. Satgas ini adalah satu kesatuan yang solid,” tutur Radista Aulia, yang turut dipercaya sebagai sekretaris satgas.
Keputusan pembentukan satgas bukan hal spontan. Proses pemilihan dilakukan melalui uji integritas, mempertimbangkan kemampuan bekerja di lapangan, kecakapan berkoordinasi, dan komitmen sosial.
Hal ini menunjukkan bahwa kepedulian tidak hanya lahir dari rasa iba, tetapi juga perlu disusun dengan persiapan yang matang.
Di balik nama-nama dalam struktur satgas, tersimpan harapan sederhana: agar mahasiswa bisa hadir sebagai pengurang beban. Jihani, Fatmawati Halawa, dan Putri Jelita—yang masing-masing bertugas sebagai wakil sekretaris, bendahara, dan wakil bendahara—akan bekerja mendampingi Tirta dan Radista untuk memastikan setiap donasi yang terkumpul tersalurkan tepat sasaran.
Seluruh perwakilan himpunan mahasiswa di kampus mendukung langkah ini. Mereka berharap Satgas Bencana Alam Sumatra bukan hanya simbol kegiatan sosial, tetapi menjadi wujud ketulusan mahasiswa untuk turun langsung mendengarkan, melihat, dan membantu masyarakat yang kini hidup dalam keadaan sulit.
Dalam waktu dekat, Satgas ini akan bergerak melakukan penggalangan dana, turun ke jalan, membuka donasi publik, hingga menjalin koordinasi dengan pemerintah daerah.
Di tengah gempuran bencana, dari kampus kecil di Medan, sekelompok anak muda membuktikan bahwa kepedulian masih hidup—dan sedang bergerak.(Akbar)










