TERITORIAL24.COM, MEDAN – Malam di Kesawan direncanakan tetap menyala pada 21 Februari mendatang. Lampion-lampion merah akan bergantung di antara bangunan tua kawasan itu. Sementara denting musik dan barongsai bersiap menyemarakkan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili. Namun tahun ini ada suasana berbeda: perayaan berlangsung di tengah bulan Ramadan.
Di Rumah Dinas Wali Kota Medan, Kamis, 12 Februari 2026, Rico Tri Putra Bayu Waas menerima jajaran Dewan Pimpinan Daerah Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) Kota Medan.
Audiensi itu membahas satu hal pokok: bagaimana memastikan perayaan Imlek tetap meriah tanpa mengusik kekhusyukan umat Muslim yang berpuasa.
“Kegiatan dimulai setelah salat tarawih,” kata Rico, memberi garis tegas pada jadwal acara.
Ia mengusulkan pembagian zona di kawasan Kesawan—ruang untuk panggung Imlek, area Car Free Night, serta titik-titik aktivitas Ramadan.
Penataan itu, menurutnya, penting agar dua momentum keagamaan dapat berjalan berdampingan tanpa saling menegasikan.
Kesawan bukan sekadar ruang publik. Ia adalah simpul sejarah Kota Medan—kawasan lama yang menyimpan jejak perdagangan, perjumpaan etnis, dan denyut ekonomi kota.
Di sanalah Pemerintah Kota Medan berencana menghadirkan panggung kebudayaan sekaligus ruang interaksi warga.
Rico melihat momentum ini sebagai ujian kedewasaan kota multietnis.
Selepas acara, kata dia, masyarakat juga dapat memanfaatkan kehadiran pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah untuk kebutuhan sahur.
Perayaan, dalam pandangannya, bukan hanya soal simbol budaya, melainkan juga perputaran ekonomi warga.
Namun ia mengingatkan agar setiap penampilan tetap memperhatikan norma dan etika, termasuk dalam pemilihan kostum dan jenis pertunjukan. “Kita ingin semua nyaman,” ujarnya.
Ketua Walubi Kota Medan, Arman Chandra, menyatakan pihaknya meminta arahan pemerintah daerah agar perayaan yang bertepatan dengan Ramadan dapat berlangsung lancar dan kondusif. Rencananya, kegiatan dimulai pukul 22.00 WIB—setelah umat Muslim menunaikan ibadah tarawih.












