Medan, yang dihuni beragam etnis dan agama, kerap dipuji sebagai miniatur Indonesia.
Kalender budayanya padat oleh perayaan lintas iman—dari Cap Go Meh hingga pawai takbiran.
Tahun ini, perjumpaan Imlek dan Ramadan menghadirkan tantangan sekaligus peluang: merawat toleransi bukan hanya sebagai slogan, melainkan praktik keseharian.
Jika tata ruang dan waktu dapat diselaraskan, Kesawan pada malam itu mungkin akan menjadi panggung kecil tentang bagaimana perbedaan dirayakan tanpa saling menyingkirkan.
Lampion menyala, beduk bertalu, dan kota tetap berjalan—dalam irama yang saling menghormati.(Anggi)












