Sumatera Utara

Workshop Penanggulangan Bencana DPD Jagatara Sumut Sejalan dengan Asta Cita Presiden, Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan RI Turut Hadir

350
×

Workshop Penanggulangan Bencana DPD Jagatara Sumut Sejalan dengan Asta Cita Presiden, Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan RI Turut Hadir

Sebarkan artikel ini

Sinergi Akademisi, Pemerintah, dan Masyarakat Dorong Pemulihan Pascabencana Berkelanjutan

Kegiatan Workshop Penanggulangan Bencana Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Jagatara Sumatera Utara berlangsung di Ruang IMT-GT Gedung Rektor Universitas Sumatera Utara (USU), Rabu (28/1/2026)(foto:Angga)

TERITORIAL24.COM,MEDAN – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Jagatara Sumatera Utara sukses menyelenggarakan Workshop Penanggulangan Bencana bertema “Peran Multipihak dalam Mendukung Pemulihan Pascabencana di Sumatera”.

Kegiatan ini berlangsung di Ruang IMT-GT Gedung Rektor Universitas Sumatera Utara (USU), Rabu (28/1/2026).

Workshop diikuti sekitar 200 peserta dari berbagai unsur mulai pukul 07.30 hingga 11.00 WIB.

Workshop ini merupakan bagian dari komitmen Jagatara dalam mendukung arahan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Jagatara.

Kegiatan tersebut selaras dengan Asta Cita Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto.

Fokus utama diarahkan pada penguatan ketahanan pangan, energi, dan kelestarian lingkungan pascabencana.

Ketua DPD Jagatara Sumut, Prof. Dr. Ir. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si, menyampaikan bahwa Jagatara telah melakukan berbagai langkah konkret di Sumatera Utara.

Upaya tersebut bertujuan mendorong percepatan pemulihan dan kesejahteraan masyarakat terdampak bencana.

Program yang dijalankan mencakup bantuan sosial hingga penguatan sektor pangan.

Menurut Agus Purwoko, Jagatara Sumut telah menyalurkan bantuan kepada masyarakat terdampak bencana di sejumlah daerah.

Selain itu, program pembibitan tanaman produktif juga dilaksanakan.

Bibit durian, aren, dan tanaman lainnya disiapkan untuk mendukung ketahanan pangan wilayah pascabencana.

Sebagai narasumber utama, Ketua Dewan Penasihat DPP Jagatara, Prof. Drs. Heru Santosa, MS, Ph.D, menekankan pentingnya pendekatan berbasis ekosistem.

Ia menilai penanggulangan bencana tidak dapat dilakukan secara parsial. Keterlibatan multipihak menjadi kunci pemulihan yang efektif.

Prof. Heru menjelaskan bahwa bencana tidak hanya disebabkan faktor alam dan iklim.

Aktivitas manusia seperti deforestasi dan pelanggaran tata guna lahan turut memperparah risiko bencana.

Oleh karena itu, pemulihan harus dilakukan melalui rehabilitasi, rekonstruksi terencana, dan restorasi ekologis.

Ia juga menambahkan bahwa penguatan fungsi hidrologis daerah aliran sungai sangat penting.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *