Sumatera Utara

Pemprov Sumut Intensif Kendalikan Inflasi dan Stabilitas Harga Pangan

413
×

Pemprov Sumut Intensif Kendalikan Inflasi dan Stabilitas Harga Pangan

Sebarkan artikel ini

TERITORIAL24.COM, MEDAN – Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprov Sumut) terus berupaya menjaga stabilitas harga pangan guna menekan laju inflasi di daerah.

Upaya tersebut dilakukan dengan memastikan pasokan dan ketersediaan bahan kebutuhan pokok tetap aman hingga akhir 2025.

Sekretaris Daerah Provinsi Sumut, Togap Simangunsong, menyampaikan hal itu usai mengikuti Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi bersama Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), yang juga membahas kebersihan dan kesehatan hewan ternak serta dukungan pemerintah daerah terhadap Program 3 Juta Rumah. Rapat berlangsung di Sumut Smart Province, Kantor Gubernur Sumut, Medan, Senin, 13 Oktober 2025.

“Pada minggu kedua Oktober, Bapak Mendagri menyebut komoditas penyumbang tertinggi inflasi nasional adalah telur ayam ras, daging ayam ras, dan cabai merah. Karena itu, dinas terkait harus cepat mengatasi persoalan ini,” ujar Togap.

Ia mendorong langkah konkret seperti gerakan tanam serentak oleh pemerintah dan masyarakat untuk menjaga ketersediaan bahan pangan.

“Minimal untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Sumut sudah pernah menjalankan program seperti ini,” katanya.

Togap juga menyoroti kenaikan harga telur dan daging ayam ras yang diduga dipicu program makan bergizi gratis. Ia menyebut, saat ini baru 350 dari sekitar 1.700 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Sumut yang terealisasi.

“Saya akan koordinasi dengan Kepala Badan Gizi Nasional Regional Sumut untuk memetakan kebutuhan dan produksi dua komoditas itu,” ujarnya.

Berdasarkan data Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Sumut, harga cabai merah rata-rata Rp81.900 per kilogram, beras medium Rp14.022, dan beras premium Rp15.253. Tren harga beras menunjukkan penurunan.

Dari sisi produksi, Sumut mengalami surplus pangan. Produksi beras Januari–Desember 2025 mencapai 2,26 juta ton, sementara kebutuhan hanya 1,72 juta ton.

Jagung juga surplus 23.294 ton, dengan produksi 1,51 juta ton dan kebutuhan 1,49 juta ton. Kedelai mengalami surplus 1.097 ton dari total produksi 1.336 ton.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *