TERITORIAL24.COM,TEBING TINGGI – Pelaksanaan Pesta Tapai sebagai tradisi turun-temurun masyarakat Melayu Kabupaten Batu Bara kembali mendapat apresiasi luas.
Kegiatan budaya yang berlangsung selama 17 Januari hingga 17 Februari 2026 tersebut dinilai berhasil memadukan pelestarian tradisi, penguatan identitas daerah, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat menjelang bulan suci Ramadan.
Pesta Tapai menghadirkan berbagai kuliner khas Melayu, di antaranya tapai ketan, tapai ubi, lemang, serta aneka makanan tradisional lainnya.
Selama sebulan penuh, kawasan kegiatan menjadi ruang interaksi sosial masyarakat sekaligus pusat aktivitas pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Kesuksesan Pesta Tapai Batu Bara mendapat perhatian dari Ketua Fraksi Keadilan dan Pembangunan DPRD Kota Tebing Tinggi, Anda Yaseer Albantani,Rabu(4/2/2026).
Ia menilai model pengelolaan kegiatan budaya tersebut relevan untuk diterapkan di Kota Tebing Tinggi, khususnya melalui inisiatif Pesta Lemang sebagai agenda budaya tahunan.
Menurut Anda Yaseer, Tebing Tinggi memiliki modal sosial dan sejarah kuliner yang kuat.
Lemang, ungkapnya, telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dan bahkan melekat sebagai identitas kota.
“Pesta Tapai di Batu Bara menunjukkan bahwa budaya lokal dapat dikelola secara terencana dan berdampak langsung bagi masyarakat. Tebing Tinggi memiliki potensi serupa melalui lemang yang secara historis telah berkembang sejak puluhan tahun lalu,” ujarnya.
Ia menjelaskan, lemang di Tebing Tinggi dikenal sejak pertengahan abad ke-20 dan berkembang sebagai kuliner khas yang hadir dalam berbagai momentum sosial dan keagamaan, terutama menjelang Ramadan dan Idul fitri.
Nilai historis dan sosial tersebut dinilai memenuhi kriteria sebagai warisan budaya.
Sejalan dengan itu, Anda Yaseer juga mendorong Pemerintah Kota Tebing Tinggi untuk mengusulkan lemang sebagai Warisan Budaya Tak benda (WBTB).
“Pengusulan lemang sebagai WBTB penting dilakukan agar keberadaannya terlindungi dan diakui secara resmi. Ini bukan hanya soal kuliner, tetapi tentang menjaga memori kolektif dan identitas budaya masyarakat Tebing Tinggi,” tegasnya.












