Kota Medan

Lampion dan Barongsai Semarakkan Imlek di Jantung Kota Medan

200
×

Lampion dan Barongsai Semarakkan Imlek di Jantung Kota Medan

Sebarkan artikel ini

TERITORIAL24.COM, MEDAN – Usai tarawih pada Sabtu malam, 21 Februari 2026, arus manusia mengalir ke kawasan Jalan Jenderal Ahmad Yani.

Di jantung kota lama itu, ratusan lampion merah bergantung memantulkan cahaya ke wajah-wajah yang menengadah, ke anak-anak yang berlarian, ke para orang tua yang sibuk mengabadikan suasana.

Kawasan yang lekat dengan jejak kolonial dan perdagangan itu berubah menjadi panggung perayaan Imlek 2577 Kongzili bertajuk Harmony Imlek Dalam Keberagaman Kota Medan 2026.

Momentum malam itu terasa simbolik. Perayaan dimulai tak lama setelah salat tarawih selesai—sebuah jeda religius yang segera berganti dengan tabuhan genderang dan lenggak-lenggok barongsai.

Di tengah kerumunan, Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas—akrab disapa Rico Waas—datang bersama Ketua TP PKK Kota Medan, Ny. Airin Rico Waas. Mengenakan busana khas Tionghoa, ia berjalan perlahan membelah lautan warga, disambut sorak dan kilatan kamera telepon genggam.

“Ke­kuatan Medan bukan pada gedung-gedungnya, tapi pada kemajemukan warganya,” ujar Rico dari atas panggung utama.

Kalimat itu meluncur mantap, disambut tepuk tangan ribuan orang yang datang dari beragam latar suku dan agama.

Di hadapannya, lampion-lampion bergoyang pelan tertiup angin malam.

Rico menyebut Medan sebagai miniatur Indonesia. Di kota ini, katanya, identitas bukan sekat, melainkan jembatan.

“Hari ini saya memakai baju khas Tionghoa, besok bisa Melayu, Batak, Karo, atau Nias. Kita bangga dan nyaman dalam perbedaan,” ujarnya.

Ia menekankan, harmoni tak lahir begitu saja, melainkan dirawat oleh sikap saling menghormati yang hidup dalam keseharian warga.

Di sela-sela pidato, atraksi barongsai dan liang liong kembali mengambil alih perhatian. Anak-anak duduk di bahu ayahnya agar bisa melihat lebih jelas.

Aroma jajanan dari stan bazar kuliner bercampur dengan wangi dupa yang samar. Sejumlah pengunjung menerima kue bakul, simbol kelekatan dan harapan akan tahun yang lebih manis.

Menurut Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Medan, Benny Sinomba Siregar, perayaan ini merupakan bagian dari strategi pengembangan kebudayaan kota. Pemerintah kota berupaya menjadikan ruang-ruang publik sebagai panggung ekspresi budaya, sekaligus ruang perjumpaan lintas komunitas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *