Advertorial

‎Di Antara Tulisan, Prasangka, dan Kedewasaan Bermedia Sosial ‎

241
×

‎Di Antara Tulisan, Prasangka, dan Kedewasaan Bermedia Sosial ‎

Sebarkan artikel ini

‎Oleh : Jufri ‎

Ilustrasi Siluet Orang Menulis di Laptop dengan Latar Dunia Digital

‎Ketika kita menulis sesuatu di media sosial, sesungguhnya kita sedang melepaskan pikiran ke ruang yang sangat luas.

Ia bisa dibaca oleh kawan dekat, oleh orang yang hanya sekadar kenal nama, bahkan oleh mereka yang sama sekali tidak pernah kita temui.

Di ruang itu, tulisan berdiri sendiri—tanpa nada suara, tanpa ekspresi wajah, tanpa penjelasan tambahan.

‎Ada yang membaca dengan seksama. Mengunyah kalimat demi kalimat. Memahami konteks dan maksudnya.

Tetapi tidak sedikit pula yang membaca dengan membawa prasangkanya sendiri. Bahkan ada yang tidak benar-benar membaca, hanya menangkap satu dua kata, lalu membangun kesimpulan.

‎Namun, apakah itu sepenuhnya salah? Tidak juga.

‎Media sosial—sebagaimana namanya—adalah ruang sosial. Ia bukan ruang akademik yang steril, bukan pula forum ilmiah yang penuh tata tertib metodologis.

Ia adalah ruang perjumpaan. Orang datang dengan latar belakang berbeda, dengan kepentingan berbeda, dengan beban pikiran yang juga berbeda.

Di sana, interaksi berlangsung begitu saja. Sebagian bahkan tidak saling mengenal. Tidak tahu karakter satu sama lain. Tidak tahu jalan pikiran dan pengalaman hidup masing-masing.

‎Di sinilah sering terjadi pergeseran konteks.

‎Kita menulis tentang kebersamaan untuk menyukseskan sebuah agenda organisasi tingkat nasional.

Yang kita maksud adalah gotong royong, partisipasi, dan kontribusi sesuai kapasitas masing-masing.

Tetapi tiba-tiba ada yang berkomentar tentang pentingnya berdakwah kepada wali kota agar jangan korupsi.

Secara nilai mungkin sama-sama berbicara tentang kebaikan, tetapi secara konteks jelas tidak nyambung.

‎Kadang lain yang kita tulis, lain pula yang dibahas.

‎Inilah dinamika ruang maya. Tidak semua orang masuk untuk berdialog; sebagian masuk untuk melampiaskan.

Ada yang membawa kegelisahan pribadi, ada yang membawa sentimen politik, ada pula yang memang gemar menggeser isu. Tulisan kita hanya menjadi pintu masuk bagi pikiran mereka sendiri.

‎Begitu pula dengan asumsi-asumsi yang dibangun hanya dari foto atau pertemuan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *