Advertorial

‎Di Antara Tulisan, Prasangka, dan Kedewasaan Bermedia Sosial ‎

243
×

‎Di Antara Tulisan, Prasangka, dan Kedewasaan Bermedia Sosial ‎

Sebarkan artikel ini

‎Oleh : Jufri ‎

Ilustrasi Siluet Orang Menulis di Laptop dengan Latar Dunia Digital

Ada yang menganggap kedekatan hanya karena duduk berdampingan. Padahal dalam diplomasi internasional, para pemimpin yang negaranya berkonflik pun bisa duduk satu meja.

Dalam konflik panjang antara Israel dan Palestina misalnya, para tokohnya pernah hadir dalam forum yang sama.

Duduk bersama bukan selalu tanda sepakat. Kadang itu justru bagian dari ikhtiar mencari titik temu.

‎Tetapi di media sosial, gambar sering dianggap kesimpulan. Duduk bersama dianggap satu barisan. Senyum dianggap dukungan total. Padahal hidup tidak sesederhana itu.

‎Karena itu, kedewasaan bermedia sosial menjadi penting.

‎Pertama, kita perlu sadar bahwa setelah tulisan dipublikasikan, ia bukan lagi sepenuhnya milik kita.

Orang akan menafsirkannya dengan kerangka pikir masing-masing. Kita tidak bisa mengontrol semua pembacaan.

‎Kedua, jangan terlalu cepat tersulut oleh komentar yang melenceng. Tidak semua komentar harus diluruskan. Tidak semua kesalahpahaman harus dibalas. Ada kalanya diam adalah bentuk kebijaksanaan.

‎Ketiga, tetaplah konsisten pada gagasan. Jika kita menulis tentang kebersamaan, maka fokuslah pada kebersamaan.

Jangan terpancing untuk keluar jalur hanya karena komentar yang ingin menggeser arah.

‎Keempat, perkuat niat. Jika niat kita adalah kebaikan, membangun organisasi, menguatkan ukhuwah, atau memberi edukasi, maka biarlah itu menjadi pegangan batin. Orang boleh berprasangka, tetapi kita tidak boleh kehilangan kejernihan.

‎Pada akhirnya, media sosial adalah cermin kematangan diri. Ia menguji kesabaran, menguji konsistensi, bahkan menguji keikhlasan.

Di sana kita belajar bahwa tidak semua orang akan memahami, tidak semua orang akan sepakat, dan tidak semua orang akan membaca dengan adil.

‎Tetapi bukan berarti kita berhenti menulis.

‎Justru di tengah riuhnya prasangka dan salah paham, tulisan yang jernih dan berniat baik menjadi semakin penting.

Bukan untuk memuaskan semua orang, tetapi untuk tetap menghadirkan nilai di ruang yang sering kali penuh kebisingan.

‎Karena tugas kita bukan memastikan semua orang setuju.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *