TERITORIAL24.COM,MEDAN – Imam Abu Dawud merupakan salah seorang ulama besar dalam sejarah Islam yang memberikan kontribusi luar biasa bagi perkembangan ilmu hadis.
Ulama yang bernama lengkap Sulaiman bin al-Asy’ats al-Sijistani (202 H/817 M–275 H/889 M) ini dikenal sebagai penyusun kitab Sunan Abu Dawud, salah satu dari enam kitab hadis utama (Kutubus Sittah) yang hingga kini menjadi rujukan umat Islam di berbagai belahan dunia.
Perjalanan hidup Imam Abu Dawud menyimpan banyak pelajaran berharga bagi siapa saja yang ingin menuntut ilmu.
Dari ketekunan dan keikhlasannya, setidaknya terdapat tujuh nilai penting yang patut dijadikan teladan.
Pertama, rela bersafar demi ilmu. Imam Abu Dawud melakukan perjalanan panjang dari Sijistan menuju Hijaz, Mesir, Syam, hingga Irak untuk mengumpulkan hadis.
Dari sekitar 500.000 hadis yang beliau pelajari, hanya sekitar 4.800 hadis yang dipilih untuk dimuat dalam kitab Sunan Abu Dawud.
Hal ini mengajarkan bahwa ilmu tidak akan datang menghampiri kita. Sebaliknya, kitalah yang harus bersungguh-sungguh mendatangi sumber-sumber ilmu.
Kedua, selektif dalam mengambil ilmu. Imam Abu Dawud dikenal sangat teliti dalam menyeleksi hadis.
Beliau lebih memilih tidak memasukkan sebuah hadis apabila terdapat cacat pada sanad maupun perawinya.
Sikap kehati-hatian ini menjadi pelajaran agar setiap muslim mengambil ilmu dari guru dan sumber yang terpercaya, serta tidak mudah menerima informasi tanpa tabayun.
Ketiga, tawadhu meski menjadi ulama besar. Ketika putra khalifah datang untuk belajar, Imam Abu Dawud tidak memberikan perlakuan istimewa.
Sang pangeran tetap diminta duduk bersama murid lainnya. Bagi beliau, kemuliaan seseorang bukan karena kedudukan, melainkan karena ilmu dan ketakwaannya.
Keempat, konsisten menulis dan mengamalkan ilmu. Penyusunan Sunan Abu Dawud berlangsung selama kurang lebih dua puluh tahun.
Beliau tidak hanya menghafal dan menulis, tetapi juga berusaha mengamalkan ilmu yang dipelajarinya.
Ilmu yang diamalkan akan melahirkan keberkahan, sedangkan ilmu yang dicatat akan lebih mudah diwariskan kepada generasi berikutnya.












