Politik

Menatap 2029, Refleksi Perjalanan Dakwah dan Transformasi Politik PKS Pelalawan

161
×

Menatap 2029, Refleksi Perjalanan Dakwah dan Transformasi Politik PKS Pelalawan

Sebarkan artikel ini

Oleh: Ust. Muh. Taufik HS

Salah satu bagian perjalanan yang paling dikenang adalah pembangunan Markas Dakwah PKS Pelalawan di Jalan Cinta Damai, Akasia, Pangkalan Kerinci(Ist)

PANGKALAN KERINCI|TERITORIAL24.COM– Setiap kali menatap kembali perjalanan PKS Pelalawan sejak tahun 2004, saya melihat sebuah perjalanan panjang yang dibangun bukan dalam sehari.

Ada keterbatasan, tantangan, dinamika, pengorbanan, sekaligus kebersamaan yang menjadi bagian dari proses membangun gerakan dakwah dan transformasi politik di Kabupaten Pelalawan.

Perjalanan itu mengajarkan kepada saya satu hal penting: sebuah gerakan tidak akan tumbuh hanya karena struktur organisasi, tetapi karena ada manusia yang bersedia bergerak, belajar, berkorban, dan menjaga semangat perjuangan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Ketika PKS mulai membangun pijakannya di Pelalawan, daerah ini masih berada dalam fase awal sebagai kabupaten pemekaran dari Kabupaten Kampar.

Berbagai keterbatasan menjadi tantangan tersendiri dalam membangun struktur dan menggerakkan kader.

Pada periode 2004–2005, kepengurusan PKS Pelalawan berada di bawah kepemimpinan Helmi Rusydi, S.Si. Saat itu, perkembangan industri pulp dan kertas RAPP turut menarik banyak tenaga kerja dari berbagai daerah.

Sebagian kader yang bekerja sebagai karyawan tentu memiliki kesibukan masing-masing.

Namun, di balik tantangan tersebut hadir pula kader-kader dari berbagai daerah yang menjadi tambahan energi dalam membangun fondasi organisasi.

Dari Langkah Awal Menuju Keterwakilan Politik

Pasca-Pemilu 2004, sebuah tonggak penting berhasil dicapai. PKS Pelalawan memperoleh keterwakilan pertama di lembaga legislatif melalui Budi Amin Siregar dari Dapil 1.

Bagi saya, capaian tersebut bukan semata-mata persoalan mendapatkan kursi.

Lebih dari itu, ia menjadi penanda bahwa kerja-kerja dakwah, pembinaan kader, dan penguatan struktur mulai menemukan bentuknya dalam kehidupan politik daerah.

Pada masa itu pula terbangun komunikasi dan sinergi dengan pemerintahan Kabupaten Pelalawan yang ketika itu dipimpin Bupati Tengku Azmun Ja’far Assegaf.

Seiring perjalanan waktu, saya dipercaya melanjutkan estafet kepemimpinan setelah datang dari Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *