Politik

Menatap 2029, Refleksi Perjalanan Dakwah dan Transformasi Politik PKS Pelalawan

162
×

Menatap 2029, Refleksi Perjalanan Dakwah dan Transformasi Politik PKS Pelalawan

Sebarkan artikel ini

Oleh: Ust. Muh. Taufik HS

Salah satu bagian perjalanan yang paling dikenang adalah pembangunan Markas Dakwah PKS Pelalawan di Jalan Cinta Damai, Akasia, Pangkalan Kerinci(Ist)

Ust. H. Abdullah yang sebelumnya mendapat amanah sebagai anggota legislatif di tingkat kabupaten kemudian melanjutkan pengabdiannya sebagai anggota DPRD Provinsi Riau. Sementara posisi di tingkat kabupaten kemudian diteruskan oleh Lutfi.

Kini, estafet kepemimpinan berada di tangan H. Sukeni yang dipercaya mengemban amanah selama dua periode.

Saya melihat energi generasi muda semakin terasa dalam kehidupan organisasi.

Mereka hadir dengan semangat, kreativitas, dan kesiapan untuk meneruskan perjalanan yang telah dirintis oleh para pendahulu.

Bagi saya, inilah hakikat estafet dalam sebuah gerakan: bukan sekadar pergantian nama dan jabatan, tetapi keberlanjutan nilai, pembinaan, dan semangat untuk terus memberikan manfaat.

Ketika Lampu Markas Dakwah Menyala

Ada pemandangan sederhana yang belakangan terasa memiliki makna tersendiri bagi saya.

Pada malam hari, sorotan lampu menerangi logo PKS di Markas Dakwah. Logo itu tampak jelas dari kejauhan.

Boleh jadi bagi sebagian orang, itu hanyalah lampu yang menerangi sebuah bangunan.

Namun bagi kami, cahaya tersebut dapat menjadi simbol bahwa semangat dakwah harus terus menyala.

Dari sana tumbuh sebuah harapan bahwa PKS Pelalawan dapat terus mempersiapkan diri menghadapi berbagai tantangan politik ke depan, termasuk menuju Pemilu 2029.

Tentu, harapan tidak cukup hanya diucapkan. Ia membutuhkan kerja nyata, pembinaan kader, pelayanan kepada masyarakat, serta konsistensi dalam menjaga nilai-nilai perjuangan.

Karena itu, yang harus terus menyala bukan hanya lampu di gedung, tetapi juga semangat kadernya.

Markas Dakwah Harus Tetap Hidup

Sebuah markas dakwah tidak akan memiliki makna apabila hanya ramai pada momentum tertentu.

Ia harus hidup dengan aktivitas pembinaan.

Alhamdulillah, hingga saat ini berbagai kegiatan masih berjalan secara rutin. Setiap dua pekan sekali, Markas Dakwah menjadi tempat berlangsungnya pertemuan Unit Pembinaan Anggota (UPA), kegiatan Perempuan dan Ketahanan Keluarga (PPW), upgrading, hingga Sekolah Murobby.

Bagi saya, kehidupan sebuah gerakan tidak hanya dapat dilihat dari banyaknya atribut atau aktivitas politik yang tampak di ruang publik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *