TERITORIAL24.COM, LANGKAT – Kalau ada yang bilang mimpi anak tukang bakso cuma bisa sampai gerobak, coba suruh dia kenalan sama Andika Pranata.
Remaja 19 tahun asal Dusun Kesuma, Desa Pematang Tengah, Kecamatan Tanjung Pura, Kabupaten Langkat ini, resmi lolos sebagai Calon Taruna Akademi Militer (AKMIL) 2025. Dan yes, dia anak penjual bakso bakar keliling.
Andika bukan anak jenderal. Bukan juga keponakan kolonel. Ia adalah sulung dari pasangan Ahmad Zaini dan Rafika, yang tiap hari berjibaku jualan bakso bakar demi dapur tetap ngebul.
Dari roda dagangan di pinggir Jalinsum, anak mereka berhasil tembus seleksi ketat AKMIL. Tanpa sogokan, tanpa orang dalam. Murni dari keringat, doa, dan kerja keras. Sesederhana itu, sesakti itu.
Dandim 0203/Langkat, Letkol Inf Medwin Sangkakala sampai turun gunung ke rumah keluarga Andika pada Rabu (6/8).
Bukan cuma untuk kasih ucapan selamat, tapi juga buat nunjukin kalau masuk TNI itu bukan urusan isi rekening, tapi isi kepala dan ketahanan fisik.
“Ini bukti nyata bahwa masuk TNI itu nggak pake-pake uang pelicin. Semua tes transparan. Yang penting siap, sehat, dan serius,” tegas Dandim, dengan logat militernya yang tegas tapi adem.
Keluarga Andika sendiri nggak nyangka rumah sederhana mereka bisa didatangi tamu sepenting Dandim.
Ibu Rafika sempat berkaca-kaca, sementara sang ayah, Pak Ahmad, cuma bisa berharap anaknya bisa lancar menempuh pendidikan dan jadi kebanggaan keluarga.
“Hasil dagangan kadang sepi, kadang lumayan. Tapi ya cukup untuk hidup. Kami cuma mau anak-anak bisa sekolah dan sukses,” kata Ahmad, yang juga punya dua anak lain, Rafa dan Dinda, yang masih duduk di bangku sekolah.
Andika sendiri sejak kecil memang sudah ngotot pengin jadi tentara. Hobinya lari pagi, push-up, dan bantuin emak cuci piring. Anak yang rajin salat ini dikenal taat dan tangguh—dua modal penting buat calon tentara.
Kini, setelah lolos AKMIL, Andika akan memulai pendidikannya sebagai Kopral Taruna (Koptar) di Magelang.
Ia bukan cuma membawa nama keluarganya, tapi juga harapan banyak anak-anak di desa bahwa mimpi itu tetap bisa dicapai, meski berangkat dari roda dagangan bakso.












