“Jarak kita sangat dekat, bahkan beberapa daerah di Sumut lebih cepat dijangkau dari Kuala Lumpur dibanding Jakarta. Keunggulan geografis ini harus kita konversikan menjadi peluang ekonomi nyata bagi masyarakat di kedua wilayah,” katanya.
Selain perdagangan, pertemuan tersebut turut membahas peluang kerja sama pengembangan sumber daya manusia (SDM), penguatan kawasan industri, serta penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berpotensi menimbulkan dampak asap lintas negara.
Bobby menyampaikan, kondisi cuaca dan penanganan karhutla di Sumut pada 2026 relatif baik. Ia menyebut tidak ada kebakaran hutan dan lahan di Sumut yang menyebabkan kiriman asap ke Malaysia.
“Alhamdulillah, tahun ini tidak ada kebakaran hutan dan lahan di Sumut yang mengirimkan asap ke Malaysia. Meskipun ada kiriman asap tipis dari daerah lain, curah hujan di Sumut saat ini masih lumayan baik,” jelasnya.
Sementara itu, Duta Besar Malaysia untuk Indonesia, Dato’ Muzafar Shah Mustafa, menyambut baik usulan pembukaan jalur laut dan pemberian subsidi logistik bagi produk UMKM Sumut.
Ia menyatakan, pihaknya akan mendiskusikan lebih lanjut mekanisme teknis pelaksanaannya, termasuk aspek regulasi pemerintah dan peluang kerja sama dengan sektor swasta di Malaysia.
Dato’ Muzafar menyebut Sumut memiliki posisi strategis dalam hubungan ekonomi Indonesia dan Malaysia. Dari total nilai perdagangan bilateral kedua negara yang disebut mencapai hampir US$26 miliar, kontribusi perdagangan Sumut diperkirakan sekitar US$1 miliar hingga US$2 miliar.
“Sumatera Utara memiliki kepentingan yang sangat besar bagi Malaysia, baik dari aspek perdagangan, perkapalan, hingga pariwisata medis dan pendidikan. Kami menyampaikan apresiasi atas sinergi yang terjalin sangat baik selama ini,” ungkapnya.
Ia juga menegaskan kesiapan Malaysia untuk terus berkoordinasi dengan Pemprov Sumut dalam memperkuat hubungan bilateral, termasuk kerja sama di bidang lingkungan dan penanganan persoalan regional di kawasan ASEAN.












